Sabtu, 13 Februari 2016

Time Flies

It’s funny how day by day, nothing changes. But when you look back, everything is different.


Pernahkah kau ketika akan beranjak tidur, sambil memandang langit-langit kamar, kau berfikir bahwa waktu berjalan dengan cepat? Memory masa lalu tiba-tiba terputar ulang di kepalamu.

Masa ketika kau masih kecil ketika kau merengek dibelikan mainan atau coklat kesukaanmu. Masa ketika kau berseragam merah putih dan menjahili teman-temanmu. Masa ketika kau tak lagi mau dianggap anak kecil karena telah berseragam putih biru ketika mungkin kau mulai mengenal apa itu jatuh cinta. Masa ketika kau mulai beranjak dewasa karena kini seragam putih abu-abu dengan bangganya kau kenakan dan kamu mulai berfikir akan jadi apa kamu nantinya. Kau akan berfikir tentang banyak profesi yang kemudian akan menjadi pertimbanganmu mengenai jurusan apa yang nantinya akan kau pilih kelak di bangku kuliah. Dan percayalah, putih abu-abu adalah masa terindah dalam perjalanan panjang pendidikanmu, karena dunia kuliah dengan baju bebas yang kau impikan dari dulu tak seindah yang kau bayangkan. Itu pendapatku.


Iya, terkadang aku teringat hal-hal kecil (atau mungkin nantinya akan menjadi hal besar) yang telah aku lalui di masa lalu. Aku teringat suatu ketika di depan sebuah rumah, mamaku berkata, “Mbak, rasanya baru kemarin mama lihat kamu lari-larian di situ (sambil menunjuk halaman sebuah rumah), sekarang kok udah wisuda aja. Itu yang mama pikirkan waktu lihat kamu wisuda.” Ucapan mama hanya bisa kutanggapi dengan sebuah senyuman karena aku tak tahu harus menjawab seperti apa.

Rumah bercat putih yang terletak persis di depan sebuah Sekolah Dasar itu milik Budhe Kartini. Kata mama rumah itu sering menjadi tempat bermainku di waktu kecil karena lokasinya yang tak jauh dari rumah nenekku (karena waktu kecil aku masih tinggal serumah dengan nenek).

Mama mengatakan hal tersebut beberapa bulan setelah aku wisuda, yang kata kebanyakan orang, setelah kamu wisuda kamu akan menghadapi dunia yang sebenarnya. Aku tak tahu apa maksud mereka karena pikirku, selama ini aku sudah berhadapan dengan dunia.

Hingga akhirnya aku tahu, perkataan mereka benar adanya. Skripsi yang aku anggap jalan tersulitku waktu itu tak ada apa-apanya dengan apa yang harus kujalani selanjutnya. Skripsi seolah menjadi batu kecil dibandingkan dengan apa yang kualami kemudian. Aku mengibaratkan itu dengan sebuah perjalanan panjang dimana sesekali aku bertemu dengan seseorang di persimpangan jalan kemudian kami berpisah melanjutkan perjalan kami masing-masing untuk menemukan persinggahan yang tepat untuk kami pada akhirnya. Ada beberapa yang menemukan persinggahan mereka lebih dulu. Ada rasa iri ketika perjalanan mereka telah usai pada sebuah tempat singgah sementara aku masih terus harus berjalan menemukan persinggahan yang tepat padahal aku melakukan perjalanan lebih dulu. Seringkali aku ingin berhenti di tengah perjalanan, seringkali aku menangis, seringkali aku mengadu pada Allah, seringkali ada rasa ingin menyerah, seringkali ada rasa lelah, tapi dibalik itu, aku percaya bahwa selalu ada harapan, dan semua jerih payah yang kulakukan akan terbayar lunas pada waktunya.

May 2015, perjalananku berhenti pada sebuah persinggahan. Mungkin bukan persinggahan yang aku cari, mungkin bukan persinggahan yang kuinginkan, mungkin bukan persinggahan yang kuharapkan. Tapi saat itu aku telah lelah berjalan dan aku merasa persinggahan itu sudah ditakdirkan untuk kusinggahi.

Di persinggahan ini aku menemukan keluarga baru, meski tak sempurna, tapi aku merasa cukup dengan adanya mereka. Beberapa kali merasa sakit hati, beberapa kali merasa ‘kok begini’, itu wajar dalam sebuah kehidupan kan? Aku pernah berada di sebuah titik di mana aku tak lagi sanggup menghadapi mereka, mungkin lebih kepada aku tak tahu kemana aku harus bercerita atau tentang siapa yang bisa aku percaya. Tapi satu hal yang aku tahu, aku harus tetap bertahan bagaimanapun keadaanku because you never know how strong you are until being strong is the only choice you have, don't you?

Semua yang sudah terjadi memberiku banyak pelajaran dan pengalaman.  Aku belajar tentang, ‘semua ada waktunya’. Ada saat di mana aku harus berjalan dan di mana aku harus berhenti. Aku juga belajar tentang menerima. Menerima apapun itu yang ditakdirkan untukku karena percaya apapun yang terjadi telah diizinkan oleh Allah. Dan semua yang terjadi adalah yang terbaik. Termasuk ketika aku bertemu seseorang di dalam perjalananku yang ketika aku bertemu dengannya yang terpikir olehku adalah, “Ke mana kamu selama ini?” karena di mataku dia sempurna. Tetapi ketika Allah berkata, ‘tidak’, aku bisa apa? Setidaknya aku tahu, ternyata hatiku belum rusak. Haha.

Well, tak terasa waktu berjalan cepat. Tak bisa kupungkiri belum ada rasa puas atas apa yang aku capai selama ini (begitulah manusia). Masih banyak mimpi, doa, dan harapan yang menunggu untuk kuwujudkan. Semoga Allah mengabulkan. Aamiin.

1 komentar: