Sabtu, 31 Desember 2016

Flashback

Ceritanya lagi beberes isi laptop. Tapi namanya beberes, nggak mungkin kan langsung delete gitu aja tanpa dilihat atau dibaca dulu ini masih perlu atau engga? Dan itu berarti saya harus nanggung resiko flash back ke masa lalu. Jawabannya tentu saja aka nada rasa galau melanda *ahelah

Saya beli laptop ini sekitar tahun 2010. Mau beli yang baru tapi ngerasa nggak begitu butuh banget soalnya jarang saya pakai. Palingan hanya buat nulis dan nonton film doang. Buat kerjaan udah ada pc di kantor dan saya nggak pernah bekerja di luar jam kantor. Kalaupun harus di luar jam kantor itu berarti saya lembur dan kerjaan saya kerjakan pakai pc kantor.

Kemarin saya ngopy film lumayan banyak dari hard disk adek saya. Dan sekarang memory laptop saya udah mulai merah jadi harus diberesin isinya. Dipilah pilih mana yang masih harus disimpan mana yang sudah seharusnya saya hapus.

Foto-foto selalu jadi incaran saat beberes laptop karena fotolah yang mendominasi isi laptop saya disamping lagu dan film hehe.

Saat pertama saya buka folder bersisi capture-an tahun 2012, kegalauan saya dimulai. Kalian yang kenal saya banget pasti tahu itu masa kegalauan saya. Lucunya, sekarang saat saya baca saya malu sendiri. Kok saya bisa selebay itu, ya? Maklumlah anak remaja *alah (ngaku kalau udah tua, ceritanya). Tapi masa-masa itu membuat saya mengerti siapa orang-orang yang selalu ada untuk saya yang Alhamdulillah masih stay hingga sekarang.

By the way, meski semua hal itu telah lewat, saya menyadari luka itu belum sembuh. Masih ada rasa sakit di dalam ketika membaca semua pesan itu satu per satu. Ketika mengingat kejadian itu keping per keping. Luka itu masih ada. Apakah itu artinya saya belum bisa memaafkan? Entahlah. Apakah artinya saya belum move on? Saya nggak tahu. Apakah itu artinya saya ingin dia kembali ke hidup saya? Oh, kalau yang satu ini tentu tidak. Banyak hal di 2015 yang membuat mata saya terbuka lebar dan menyadari betapa bodohnya saya. Tapi, entah kenapa, saya ingin satu hal. Saya ingin melihat, dia, yang udah buat saya patah hati, sakit hati, nangis berhari-hari, sakit muntaber-radang-thypus, hingga IP saya dua koma. Saya pengen banget lihat dia. Nggak akan saya apa-apain, cuma mau lihat aja, gitu.

Berlanjut ke capture 2013, yang paling saya ingat capture-an dari Dinda. Dia ngasih tahu saya kalau saya itu tipe orang insting (ada lima type: sensing, thinking, insting, instuition, feeling). Itu berarti saya otak tengah, kanan 50%, kiri 50%. Hal itu membuat saya bisa apa saja, tapi karena itu saya jadi gampang bosan. Yes, it’s true! Dia bilang gitu ke saya setelah kenal saya beberapa lama. Dia sadar dari sifat saya yang gampang emosian, tapi juga cepet redanya, responnya cepat, punya banyak kepribadian jadi susah ditebak. Mwihihi. Kalau kalian pernah baca salah satu postingan saya, yang judulnya What is Happiness, itu dia yang bilang. Tujuan saya hanya satu: bahagia. Pokoknya apa aja saya lakuin biar saya seneng, hihi.

Berlanjut ke 2014 yang isinya kalimat-kalimat motivasi, biar saya nggak nyerah, sama capture-an jadwal interview saya di sana-sini.

Dan ketika buka folder 2015 lah saya galau lagi. Ada capture-an dari seseorang. Seseorang yang berhasil membuka mata saya, bahwasanya selama ini saya bego, banget. Seseorang  yang menjadi motivasi saya untuk tetap bertahan, untuk tetap hidup. Seseorang yang membuat saya mikir, “Kamu selama ini ke mana aja sih? Saya nyariin kamu.” Dan seseorang yang pernah saya harapkan untuk jadi yang terakhir tapi ternyata Allah belum mengizinkan. Dia membuat saya terluka, tapi saya sadar, dia juga pernah membuat saya bahagia. Terima kasih kamu, ya. Untuk pernah datang ke hidup saya, membuat saya bahagia, membuatku menyadari bahwasanya tidak ada yang tidak mungkin, dan bahwasanya saya berharga. Terima kasih, sekali lagi. Terima kasih, untuk semuanya.

Dan ternyata, besok udah 2017 aja, ya. 2016 ini, ah, sudahlah. Tahun yang lumayan berat buat saya. Apa saja yang terjadi sama saya di tahun ini dan apa resolusi saya untuk 2017 saya ceritakan kapan-kapan, ya, hehe. Terima kasih sudah membaca J

Regards,

Karra

Rabu, 28 Desember 2016

Nothing is the same anymore.

Masih ingat banget hari dimana aku, Ocha, Eva, sama Vherlly makan bareng di Sambal van Java dan entah kenapa tetiba kita ngomong soal pernikahan. Ngomongin ini dan itu sampai akhirnya Ocha ngomong, "aku yang bakal terakhir nikah." Dan saat itu juga, aku ngomong dalam hati, "engga Cha, aku yang bakal terakhir nikah."

Sekarang kebukti bahwa apa yang aku predict itu bener. Ocha uda nikah tahun lalu, Vherlly November kemarin, dan Eva April 2017 nanti. Aku? Nggak usah ditanya :))

Semenjak lulus kuliah, harusnya aku sadar sih kalau hidup kami akan berjalan masing-masing. Nggak bisa kaya dulu lagi yang dengan gampangnya makan siang bareng, ngemall bareng, nonton bareng, atau pun ngafe bareng.

Ada masa ketika aku sudah mulai terbiasa tanpa mereka. Ngejalanin hari-hariku yang 'sendirian'. Dan aku merasa semua baik-baik saja. Aku bisa sendiri dan emang uda biasa sendiri.

Tapi sepertinya ketergantungan pada mereka masih ada. Ketemu mereka yang hanya satu jam dua jam itu berasa aku dapat vitamin yang bisa ngobatin betenya aku sama kerjaan dan orang-orang di kantor.

Dan yang aku takutin sekarang adalah sampai kapan aku harus tergantung sama mereka? Sekarang aja uda kerasa banget kalo Ocha uda sibuk ngurusin anak sama suaminya, Vherlly dengan keluarga barunya, Eva dengan persiapan pernikahannya, masa Ika mau terus-terusan ngriwehin mereka sih?

I mean harusnya aku uda bisa mandiri, nggak ngriwehin mereka lagi, nggak ketergantungan sama mereka, sadar diri kalo kami punya jalannya masing-masing, terlebih jangan gangguin Eva mulu karena Eva uda sabar banget dengerin curhatan dan keluhan aku tentang masalah percintaan, kerjaan, dan orang-orang di kantor yang nggak kelar-kelar. Bhay!

Duh, entahlah ini tulisan aku yang berantakan banget yang nggak punya konsep yang nggak tahu maksudnya mau nulis apa tapi entah mengapa Ika pengen aja nulis tentang how hard for me to face the fact that nothing is the same anymore.

Rabu, 23 November 2016

Night Conversation




Berawal pada hari Kamis, 17 November kemarin, ketika aku keluar dari sebuah minimarket, aku seakan melihat sesosok manusia yang sudah amat lama aku kenal. Lalu dia terlewat begitu saja setelah aku melihat plat nomor kendaraannya. Ada rasa ingin teriak memanggil namanya, yang namun pada akhirnya aku urungkan karena takut salah orang dan malu dilihatin orang sekitar.

Sampai kosan aku berusaha mencari kontaknya dari teman-temanku, lalu ku kirimkan pesan teks padanya menanyakan apakah dia barusan lewat daerah kosku. Tak ada balasan pada malam itu.

Keesokan harinya, dia membalas pesanku, menanyakan aku siapa, hal yang menurutku wajar karena saat ini ketika orang berganti hp, ratusan bahkan ribuan kontak lenyap sudah. Kami pun akhirnya berbalas pesan, hingga akhirnya pada malam harinya mengadakan pertemuan. Dan itu berarti, aku gak salah lihat orang.

Sesampainya kami di tempat makan, kami seakan tak kekurangan bahan pembicaraan, ada saja yang kami bahas, hingga akhirnya dia mengeluarkan pertanyaan, "Kita udah berapa lama ya nggak ketemu?"

"Semenjak lulus SMA kayanya." Aku berpikir sejenak, lalu aku ralat, "Eh enggak, pas kita kuliah kita ada reuni, tapi kita nggak ngobrol banyak."

Dia mengangguk-angguk dan aku tahu ada sesuatu yang dia pikirkan.

Lalu aku bertanya, "Emang kenapa?"

"Kamu berubah, banyak."

Aku mengernyitkan dahi. "Masa sih? Bukannya aku dari dulu begini?" Aku diam sejenak. Lalu kulanjutkan, "Atau aku emang berubah tapi aku nggak sadar ya?"

Ada hening sejenak diantara kita.

Dan aku pun penasaran. "Emang aku dulu kaya gimana?"

Dia terlihat berpikir sejenak, lalu berkata, "Hmm, ini penilaianku loh ya, jangan marah loh ya."

"Iya. Nggak papa," jawabku.

"Ika yang ku kenal dulu tuh, ika yang manja, yang disayang banget sama orang tuanya, yang apa-apa keturutan, yang ketika mau cerita sesuatu ke kamu tuh kaya 'alah ika ini gatau susahnya ngedapatin sesuatu'. Gitu. Ngerti kan maksud aku?"

Aku pun tertawa mendengarnya. Dalam hati sebenernya aku seneng, sebahagia itukah hidupku di mata orang lain? Tapi beneran deh ya seneng banget karena sesungguhnya aku pengen itu yang dilihat orang dari aku. Hidup aku ya seneng-seneng aja nggak ada susahnya. Ngapain juga kan sedih diumbar-umbar?

Ketahuilah ada penyesalan saat ini ketika aku gegalauan di fb, twitter, tumblr, dan blog ini. Tapi ya namanya manusia kadang pengen ngeluapin sedihnya juga kan ya.

Aku mungkin nggak secara langsung sadar kalau berubah, sih. Tapi aku percaya satu dua dan banyak hal yang terjadi di hidupku pasti secara nggak langsung ngerubah aku, pola pikir aku, dan kelakuanku.

Malam itu, aku belajar banyak banget hal dari dia. Malam itu berarti banget karena finally aku ngerasain lagi yang namanya punya teman yang bisa diajak sharing yang nggak ngejudge ini itu dan beneran ngedengerin dan mahamin.

Kami ngobrol dari setengah 8 sampai jam 11 malam. Aku sampai kos sekitar jam setengah 12, beberes kamar dan packing sampai jam 1, tidur setengah 2, dan bangun jam 3 karena ditelpon sopir taksi. Jam 4 pagi aku udah sampai bandara. What a day! Tapi entahlah, aku seneng banget punya temen ngobrol malam itu.

Dan ini seriusan sih, hidupku emang amat sangat harus disyukuri banget-banget karena apa yang terjadi di aku mungkin nggak ada apa-apanya dibandingin apa yang udah selama ini dia lewatin. Emang dasar ya, manusia sering lupa kalau masing-masing dari kita punya jalan sendiri-sendiri untuk dilewati dan dilalui. Percaya deh, Allah itu Maha Adil, kok. Jadi ya nggak perlu iri sama jalannya orang lain, gitu. Dan nggak usah ngejudge karena kita gatau jalan apa yang uda dia lewatin. Kita kenal dia di usianya yang ke 23 misal. Selama 23 tahun, kita gatau apa aja yang uda terjadi sama dia. Jadi ya nggak usah ngejudge seenaknya, gitu.

And last but not least, tadi aku nemuin tulisan Bara di twitter dan ini aku suka banget. Isinya, "Apa yang Mbak lihat dari seseorang adalah apa yang seseorang itu pilih untuk Mbak lihat, dan ada alasan kenapa seseorang tidak memperlihatkan hal-hal tertentu."

See you on the next post!

Selasa, 04 Oktober 2016

Depression?

Pagi ini gue tahu banget bahwa hari ini nggak akan ada kerjaan yang gue kerjain di kantor. Gue uda bawa buku dari kosan buat gue baca ngisi waktu kosong gue. Tapi sebelum gue baca buku, gue twitteran dulu dan nemulah tweet Lexy jaman baheulak yang bahas tentang depresi. Dan ya, gue sadar diri, gue di dalam tahap gejala depresi. Atau uda depresi?

Gue sekarang di dalam tahap bosan banget sama hidup gue. Hidup gue stuck di tempat. Apa yang gue kerjain di kantor itu-itu mulu dan nggak ganti-ganti. Anak sekolah aja tiap semesternya ganti pelajaran atau mata kuliah baru kan?

Kegiatan gue sehari-hari cuma di isi bangun pukul 5, berangkat pukul 7, di kantor ngerjain hal yang sama yang uda lebih dari setahun gue lakuin dan pukul 11 biasanya kerjaan gue uda kelar. Pukul 11 istirahat sampai pukul 12 dan dari pukul 12 sampai pukul 5 sore kerjaan gue nggak jelas dan gue paling nggak suka nganggur. If I can quit, i'll quit, but unfortunately i can't.

Pulang kantor pukul 5 sore, sampai kos pukul 6, dan setelah di kos gue nggak tahu mau ngapain. Kegiatan malam gue hanya diisi mainan handphone nggak jelas  atau video call sama mama papa atau adek sampai akhirnya pukul 9 malam gue tidur.

Tiap weekend hanya diisi dengan beberes kamar, nyuci baju, dan itu nggak butuh waktu seharian. Sisanya, gue hibernasi. Atau nge-mall kalau ada yang harus gue beli ataupun nonton kalau ada film yang pengen gue tonton. Atau main ke Jakarta ke tempat saudara yang hanya gue lakuin satu atau dua bulan sekali karena macetnya Jakarta nggak ketulungan.

Hidup gue berasa nggak guna. Tiap bulan gue hanya nunggu tanggal gajian lalu gue transfer ke mama papa adek dan udah gitu aja mulu sampai bosen. Kalau nggak ada mereka mungkin hidup gue lebih nggak guna lagi.

Di sini gue belum bisa nemu teman yang bisa diajak hangout ngopi cantik kaya teman-teman gue dulu. Gue sadar diri life style orang-orang di sini beda banget sama gue dan gue nggak bisa pura-pura jadi orang lain hanya untuk diterima.

Temen-temen kuliah gue sekarang di mana? Gue sadar mereka udah punya kehidupan masing-masing dan nggak seharusnya gue gangguin mereka. Gue harus bisa 'nyembuhin' gue sendiri tanpa harus ngerepotin mereka.

Entah uda berapa kalo gue di fase ini lalu gue bisa deal with the situation but sometimes perasaan itu muncul lagi. Bosan sama kerjaan banget banget banget. Jam segini aja gue bisa nulis blog kan?

Kenapa gue nggak ke psikolog? Dulu, gue pernah di satu titik di mana gue sadar gue harus ke psikolog bahkan gue ke psikiater pun udah pernah. Tapi gue rasa itu nggak cukup membantu meskipun di sini gue juga udah pernah cari info di mana psikolog atau pun psikiater yang bisa gue datengin tapi sampai sekarang itu cuma wacana dan belum gue lakuin.

Kalian yang baca ini boleh banget anggap gue gila. Boleh banget bilang gue lebay. I don't have a place or someone to share so the only thing i can do just write here. Entahlah, gue merasa dengan menulis agak sedikit ngebuat lega aja.

Gue nggak tahu sampai kapan bisa kuat, sampai kapan bisa nahan sendiri. Tapi setidaknya, gue nggak ngerepotin orang lain kan?

Udah ah, mau baca buku dulu. Bhay!

Minggu, 25 September 2016

Pasar dan Pernikahan

Ceritanya tiap kali gue ada waktu luang, gue akan main ke Pondok Gede tiap weekend, ke rumah saudara gue. Begitu juga yang gue lakuin tanggal 17 kemarin. Sabtu siang gue berangkat, sampe di sana sore. Padahal kalau nyetir sendiri lewat tol mah cuma sejam. Berhubung gue belum beli mobil, cara gue ke sana ya dengan naik krl nyambung transjakarta (lagi nabung buat beli mobil, doain aja).

Tanggal 18 pagi, gue diajakin ke Pasar Jatinegara buat berburu souvenir. Kakak sepupu gue mau nikah November nanti. Doain biar semuanya lancar, ya.

Gue berasa pengen nge-apresiasi diri gue sendiri gitu karena uda main ke pasar. Haha. Maklum lah, gue amat sangat benci tempat yang crowded such as pasar.

Sampai di sana langsunglah kita menuju satu per satu kios yang jual souvenir pernikahan. Dan gue jadi tahu loh harga souvenir nikahan teman-teman gue. Hihi. Harganya termasuk murah menurut gue per satuannya, kalau udah dikali jumlah undangan udah beda cerita, ya. Tapi jangan salah, kualitasnya lumayan oke, kok.

Kalau ada yang mau tanya, "Kenapa sih Ka nggak pesan aja gitu ke toko souvenir tinggal lihat katalog, bayar, nanti barang dianterin, dan nggak usah panas-panasan di pasar."

Alasannya adalah kakak gue butuh barangnya cepat, mengingat acara yang tinggal sebulan lagi, dengan harga yang terjangkau, sesuai sama kemampuan.

Point gue kenapa gue nulis blog ini adalah bukan betapa kerennya gue yang udah ke pasar *alah* tapi lebih ke pelajaran apa yang gue dapat dengan terlibatnya gue di acara nikahan kakak gue nantinya.

Nikah itu mahal.

Yup! It's true. Mungkin beberapa orang ada yang berpendapat, 'yang penting sah'. Tapi menurut gue, nikah yang cuma sekali seumur hidup itu pengen gue jadiin salah satu moment penting di hidup gue. Bukannya gue menargetkan nikahnya gue nanti harus mewah, ya. Tapi gue ingin berbagi moment itu dengan keluarga dan teman terdekat gue nantinya. Di mana pernikahan yang gue mimpikan sepertinya menghabiskan dana lumayan banyak buat catering, rias, foto, souvenir, dekor, gedung, seragam, dll. Meskipun gue bisa menjamin, undangan gue nggak akan sebanyak teman-teman gue.

He must be the right one.

Suami kamu, atau pasangan kamu nantinya, haruslah orang yang kamu yakinin paling tepat untuk kamu jadikan pendamping hingga akhir hayatmu. Teman yang bisa diajak berbagi suka duka, sehat sakit, dan kaya miskin.

Pernah kepikiran nggak sih misal Allah kasih kamu waktu hingga usia 63 (seperti Nabi Muhammad). Kamu nikah umur 25. It means that lebih dari separuh hidup kamu akan kamu habiskan bersamanya, lebih dari waktu yang kamu habiskan denga orang tua kamu, yang uda merawat, mengasuh, mengurus, mendidik, mendampingi, dan menjaga kamu sampai kamu dewasa sehingga bisa menentukan atau mengambil sendiri keputusan apa untuk masa depanmu.

Saat ini adalah musim ketika banyak dari teman seangkatan gue yang memutuskan untuk menikah. Bahkan beberapa dari mereka sudah memiliki momongan. Kalau ada yang tanya ke gue, "lo kapan?" Gue akan jawab dengan sebuah senyuman.

Nikah mahal dan saat nikah nanti gue nggak ingin membenani orang tua gue dengan gue minta uang ke mereka.

Saat ini gue single dan pikiran akan pernikahan hanya terlintas sedetik dua detik dipikiran gue yang akan berganti dengan pikiran lain.

Menurut gue, selain dua point di atas, ada hal yang lain di kepala gue yang selama ini gue. Sebuah pertanyaan tentang apakah gue udah siap ke jenjang yang amat sangat serius itu?

Jawabannya adalah belum siap.

Saat ini gue masih menjadi orang yang amat sangat menikmati kesendirian. Memuaskan dan menuruti apa yang diri gue inginkan. Makan nonton belanja jalan-jalan sekehendak hati gue, tanpa butuh persetujuan orang lain. Masih ingin 'nyenengin diri sendiri' lebih tepatnya.

Ketika gue punya pasangan nanti, gue sadar gue nggak bisa sebebas ini. Gue harus siap 'diatur'. Salah satu hal yang sebenernya gue benci. Gue pun harus berbagi hidup bersamanya. Dia ada kondangan kah, acara ulang tahun kah, kumpul keluarga kah, gue pasti harus ikut dan itu berarti hidup gue nggak akan sebebas ini lagi.

Setengah hidupnya dia akan jadi milik gue, dan setengah hidup gue akan jadi milik dia.

Gue pun belum siap atas sebuah komitmen. Honestly, trauma dari yang kemarin masih ada. Rasa takut terulang lagi ada dipikiran gue. Gimana kalo nanti dia ninggalin gue. Gimana kalo nanti dia se-ling-kuh... You know I always love hard. Yang ketika disakiti, nggak hanya jiwa gue yang sakit tapi fisik gue juga akan kena. Nggak perlu gue cerita ulang kan apa yang terjadi sama gue beberapa tahun lalu itu? (What a shame.)

Selain itu gue belum ada pikiran untuk 'iya, saatnya gue untuk berhenti.' Ingin berhenti selalu ada ketika gue bersama seseorang. Tapi ketika gue single begini, gue selalu merasa, 'sabar, sebentar lagi your prince will coming.'

Yang gue maksud adalah ketika ada seseorang yang datang, yang bisa membuat gue jatuh hati sama dia, yang bisa membuat gue memutuskan untuk berhenti, yang bisa membuat gue lupa akan trauma masa lalu gue, yang bisa membuat gue berpikir bahwa 'he is the right one and you need to stop now', ketika itulah my prince has coming!

Tapi sampai saat ini, belum ada yang bisa membuat gue seperti itu. Ada yang mengganjal di hati ketika ada seseorang yang mendekat. Dia kah? I think the right one tidak akan membuat berpikir seperti itu. I think the right one will make my heart say loudly, 'he is truly yours', when he come.

Entahlah. Gue nggak ngerti.

Entah berapa orang yang telah datang yang pada akhirnya hanya tersakiti. Beberapa orang menerima dengan lapang dada. Beberapa lagi tidak terima dan berbalik jelek-jelekin gue, ngomongin gue dibelakang, dan seakan melihat gue kek najis banget hingga waktu ketemu pun buang muka.

Maaf.

Hanya itu yang bisa aku katakan.

Sungguh, aku tak bermaksud menyakiti kalian. Mungkin caraku menunjukkan yang tidak tepat. Aku hanya tak tahu bagaimana cara yang baik yang membuat kalian tak terluka.

Maaf.

Btw, kenapa jadi curhat begini? Haha.




Kamis, 01 September 2016

Sampai Kapan?

Aktivitas rutin pagi gue ketika jam kerja dimulai adalah cek email. Dan begitu juga yang gue lakuin pagi kemarin. Ada yang ga biasa di inbox gue pagi itu. Ya, ada satu pesan dengan subject Farewell dan itu dari temen gue sendiri! E-mail farewell itu udah biasa, tapi kalau dari temen sendiri, dan dia belum ngomong sebelumnya, itu ngeselin.

Pada dasarnya gue orang yang cuek, masa bodoh, dan ga pedulian. Tapi kalau uda temen sendiri, gue berubah jadi orang yang tanya ini itu karena gue peduli, bukan bermaksud tanya-tanya tapi akhirnya ngegosip sana sini - like people nowadays. Tau sendiri kan orang jaman sekarang tanya kenapa sebagian karna peduli tapi lebih banyak lagi tanya kenapa karena kepo. *Kenapa bahasa gue berantakan begini? Semoga kalian tau lah ya maksud gue.

Setelah baca email itu, gue langsung line dia.


- Life must go on. Kata dia yang langsung ngebuat gue berpikir, "Kok hidup gue kaya gini terus ya? Gue kapan go on juga?" -

Dan setelah itu, kita ngobrol banyak tentang reason kenapa deseu pindah, dan gue curhat betapa ga betahnya gue di kantor. Dan apa yang kita rasain sama!

Berasa useless, nggak develop myself. Itu yang kita rasain. Bosen banget nggak sih kalau di kantor datang, mulai kerja jam delapan, ngerjain kerjaan yang nggak tentu tapi seringkali dikerjain sampai jam 11 juga uda kelar. Abis itu jam 12 sampai jam 5 sore gatau musti ngapain dan berakhir dengan mainan handphone.

Ada sih masa dimana kerjaan hectic sampe pegang handphone pun susah, tapi itu jarang banget. Rasanya bahagia banget gitu kalo gue pulang kantor dengan baterai masih 70an persen karena itu berarti hari gue berharga. Haha.

Uda lama banget gue curhat ke mama gue, "Ma, kerjaan aku tuh gitu doang. Aku tuh punya otak yang bisa dimanfaatin. Aku berasa nggak berguna. Sayang kemampuan aku." Dan seperti biasa, jawaban mama standard semacem, "Sabar mbak, kalau uda selesai kontrak 3 tahun resign. Coba ngomong ke atasan."

Iya, gue stay di sini lebih karena gue taken kontrak 3 tahun. Dan kalau belum ada 3 tahun gue resign, gue dapat penalty 87 juta! Uang dari manah? Lumayan buat dp mobil itu. Dan ngomong ke atasan, gue udah pernah bilang, minta dipindah, sayangnya belum di acc sampe sekarang :(

Saking banyaknya waktu luang, lingkungan gue dikelilingin dengan orang-orang yang nyinyir, ngaduan, cari muka, dan hobi banget nyela orang. Emang nggak semua sih, tapi nggak enak banget kan hidup dikelilingin orang yang negatif. Gue biasa kumpul sama temen-temen gue yang ketawa ketiwi ngomongin kebodohannya kita, berkhayal tentang banyak hal, bermimpi ini itu dan optimis kita bisa ngeraih itu. Fokus on our self lah intinya, nggak peduli orang luar kaya gimana.

Malam hari sebelum gue tidur, gue selalu mikir, kok hidup gue gini-gini aja? Setahun kerja di sini berasa nggak dapat ilmu apa-apa. Hidup gue seperti stag di tempat. Pengen ngelakuin sesuatu tapi juga belum tau apa. Ikut beberapa event nulis tapi sayangnya belum menang. Nyoba jualan di olshop juga nggak laku-laku haha. Subscribe sribulancer, apply beberapa kerjaan juga nggak ada yang final. Haha. Ngelanjutin nulis novel kadang tiba-tiba stag di tempat gitu.

Well, setidaknya satu hal yang harus gue syukuri. Masa sulit gue udah gue lalui. Gue bukan lagi pengangguran, gue punya kerjaan, gue nerima gaji tiap bulan yang alhamdulillah cukup buat menuhin kebutuhan gue perbulannya.

Semoga kelak, setelah masa kontrak gue abis, gue bisa dapat pekerjaan yang lebih baik dari sekarang. Aamiin.

Senin, 23 Mei 2016

Ada Apa Dengan Cinta? 2

Finallyyyyyy! Mission completed!



Bukan, misi gue bukan nonton film AADC 2. Tapi misi gue adalah nonton sendirian. Iya, nonton sendiri di bioskop.

Suatu hari gue pernah berpikir, gue udah biasa ngemall sendiri, ngafe sendiri, makan sendiri, jalan-jalan sendiri, tapi kok gue belum pernah ya nonton sendiri? Semenjak hari itu gue bertekad mau nonton film sendiri suatu hari nanti dan ankhirnya hal itu kesampaian hari Sabtu (21 May 2016) kemarin.

Ada rasa bahagia tersediri ketika gue bisa nonton sendiri. Kayanya besok-besok gue bakal lebih sering nonton sendiri haha. Asyik juga ya ternyata.

Gue emang udah lama banget nggak nyenengin diri sendiri. Tiket nonton yang lebih mahal dari harga di Semarang pun bukan masalah. Setelah nonton pun gue tetep makan sendiri di mall (sesuai rencana gue untuk nonton lalu makan) dan dilanjutkan dengan belanja baju (kalau ini nggak sengaja).

Sendiri bukan masalah buat seneng-seneng kan? Sendiri bukan masalah untuk bahagia kan?

Bahagia ya rasanya ketika sudah bisa berdamai dengan kenyataan. Menerima apa yang terjadi dan berusaha sabar dan ikhlas untuk melewatinya. Rasanya udah lama sekali gue tak merasakan perasaan selapang ini. Jadi ingat masa lalu. Rasa yang dulu pernah gue alami.

Sedikit tentang AADC 2, ada segelitik pertanyaan dalam benak gue.

Suatu hari gue pernah ngobrol sama teman gue dan kebetulan sekali kita punya prinsip sama yaitu nggak akan pacaran sama mantannya temen sendiri (sahabat sendiri, temen yang deket gitu, bukan sekedar kenalan tahu nama) entah itu mantan gebetan atau mantan pacar. Tapi suatu ketika timbul pertanyaan dari kita berdua, "kalau jodohnya itu gimana?"

Rangga dan Cinta.

Entah itu cerita tentang gagal move on, terjebak nostalgia, atau destiny? Gue sendiri masih nggak ngerti sih definisi gagal move on itu gimana. Masa cuma punya pacar baru atau belum? Dalamnya hati seseorang kan nggak ada yang tahu ya. Kalau terjebak nostalgianya sampai bikin Cinta ninggalin Trian, itu jahat nggak sih?

Seandainya ya, ada parameter yang jelas tentang move on, nostalgia, dan takdir. Tapi bukan cinta namanya kalau ada parameter ini itu kan ya?

Terlepas dari pertanyaan nggak jelas gue itu, gue tetep suka sama AADC 2. Menurut gue ini bukan film romantis sih, tapi lebih ke lucu gokil gimana gitu. Selama nonton gue lebih sering ketawa ngelihat tingkah kocak para pemainnya. Apalagi waktu Cinta balik lagi nemuin Rangga setelah deseu nampar Rangga. Atau pas Cinta sok-sok nggak peduli sama Rangga tapi tanya ke Carmen, "Terus dia bilang apa lagi?" Dan juga adegan Cinta ngebenerin make up nya dulu sewaktu Rangga belum masuk mobil. Kaya gitu kok masih nggak peduli ~ hihihi

Well, intinya gue sudah bisa berdamai dengan kenyataan dan semoga bisa terus menerus berlapang dada biar gampang bahagia. Berjanji ke diri sendiri bakal lebih sering jalan-jalan biar seneng. Uang kan bisa dicari, shopping is cheaper than psychiatrist. Management keuangan diatur bisa, kok. Dan semoga gue bisa segera menemukan 'Rangga nya saya' seperti halnya Cinta. Aamiin.

Tangerang, 23 May 2016

Rabu, 09 Maret 2016

Supernova dan Cinderella



Di sini saya tidak akan membahas tentang serial Supernova. Saya yakin sekali sudah ada banyak blog yang membahas tentang Supernova dari seri awal--Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh--hingga paling akhir--Inteligensi Embun Pagi. Saya tidak akan menceritakan betapa kagumnya saya dengan sosok Diva atau yang dikenal sebagai Bintang Jatuh dan juga Thomas Alfa Edison Sagala--Gelombang.

Alasan saya menulis postingan kali ini adalah, ada dua buah paragraf yang cukup menggelitik hati saya ketika membaca Supernova - Inteligensi Embun Pagi.

Percakapan terakhirnya dengan Kas pun mengiang. Sulit bagi Zarah untuk percaya bahwa rangkaian peristiwa dalam hidupnya adalah jalur yang terbaik. Namun, detik itu akhirnya Zarah memahami ke mana semua pilihan itu bermuara.
Masa lalu, masa depan, dan masa kini melebur dan menggenapinya. Zarah memejamkan mata. Tak ada waktu dan tempat lain yang ia inginkan selain saat ini, di dalam dekapan seseorang yang akhirnya mengizinkan Zarah merasa sungguh memiliki segalanya. - Inteligensi Embun Pagi

Sabtu, 13 Februari 2016

Time Flies

It’s funny how day by day, nothing changes. But when you look back, everything is different.


Pernahkah kau ketika akan beranjak tidur, sambil memandang langit-langit kamar, kau berfikir bahwa waktu berjalan dengan cepat? Memory masa lalu tiba-tiba terputar ulang di kepalamu.

Masa ketika kau masih kecil ketika kau merengek dibelikan mainan atau coklat kesukaanmu. Masa ketika kau berseragam merah putih dan menjahili teman-temanmu. Masa ketika kau tak lagi mau dianggap anak kecil karena telah berseragam putih biru ketika mungkin kau mulai mengenal apa itu jatuh cinta. Masa ketika kau mulai beranjak dewasa karena kini seragam putih abu-abu dengan bangganya kau kenakan dan kamu mulai berfikir akan jadi apa kamu nantinya. Kau akan berfikir tentang banyak profesi yang kemudian akan menjadi pertimbanganmu mengenai jurusan apa yang nantinya akan kau pilih kelak di bangku kuliah. Dan percayalah, putih abu-abu adalah masa terindah dalam perjalanan panjang pendidikanmu, karena dunia kuliah dengan baju bebas yang kau impikan dari dulu tak seindah yang kau bayangkan. Itu pendapatku.