Senin, 30 Januari 2017

I will just dim your stars.

I cant resist to write this.

Entah sejak kapan kamu mengganggu pikiranku. Tapi entahlah, kedatanganmu belum bisa membuatku berhenti. Meski beribu kebaikan telah kau tunjukkan, dan tak perlu lagi kusangsikan.

Ada hal yang belum bisa kuterima, meski kutahu tiada yang sempurna. Namun aku bisa apa ketika logikaku berusaha keras menolaknya?

Kamu orang baik. Sungguh. Terima kasih untuk pernah ada.

You deserve someone who will give you the world. Believe me, I know how bright you shine. How your heart is a heart of gold, how if I wasn’t broken, I would crash into you fully and never look back. But right now, I will just dim your light. Right now, I don’t deserve your love. - Anna Bashedly

Sabtu, 31 Desember 2016

Flashback

Ceritanya lagi beberes isi laptop. Tapi namanya beberes, nggak mungkin kan langsung delete gitu aja tanpa dilihat atau dibaca dulu ini masih perlu atau engga? Dan itu berarti saya harus nanggung resiko flash back ke masa lalu. Jawabannya tentu saja aka nada rasa galau melanda *ahelah

Saya beli laptop ini sekitar tahun 2010. Mau beli yang baru tapi ngerasa nggak begitu butuh banget soalnya jarang saya pakai. Palingan hanya buat nulis dan nonton film doang. Buat kerjaan udah ada pc di kantor dan saya nggak pernah bekerja di luar jam kantor. Kalaupun harus di luar jam kantor itu berarti saya lembur dan kerjaan saya kerjakan pakai pc kantor.

Kemarin saya ngopy film lumayan banyak dari hard disk adek saya. Dan sekarang memory laptop saya udah mulai merah jadi harus diberesin isinya. Dipilah pilih mana yang masih harus disimpan mana yang sudah seharusnya saya hapus.

Foto-foto selalu jadi incaran saat beberes laptop karena fotolah yang mendominasi isi laptop saya disamping lagu dan film hehe.

Saat pertama saya buka folder bersisi capture-an tahun 2012, kegalauan saya dimulai. Kalian yang kenal saya banget pasti tahu itu masa kegalauan saya. Lucunya, sekarang saat saya baca saya malu sendiri. Kok saya bisa selebay itu, ya? Maklumlah anak remaja *alah (ngaku kalau udah tua, ceritanya). Tapi masa-masa itu membuat saya mengerti siapa orang-orang yang selalu ada untuk saya yang Alhamdulillah masih stay hingga sekarang.

By the way, meski semua hal itu telah lewat, saya menyadari luka itu belum sembuh. Masih ada rasa sakit di dalam ketika membaca semua pesan itu satu per satu. Ketika mengingat kejadian itu keping per keping. Luka itu masih ada. Apakah itu artinya saya belum bisa memaafkan? Entahlah. Apakah artinya saya belum move on? Saya nggak tahu. Apakah itu artinya saya ingin dia kembali ke hidup saya? Oh, kalau yang satu ini tentu tidak. Banyak hal di 2015 yang membuat mata saya terbuka lebar dan menyadari betapa bodohnya saya. Tapi, entah kenapa, saya ingin satu hal. Saya ingin melihat, dia, yang udah buat saya patah hati, sakit hati, nangis berhari-hari, sakit muntaber-radang-thypus, hingga IP saya dua koma. Saya pengen banget lihat dia. Nggak akan saya apa-apain, cuma mau lihat aja, gitu.

Berlanjut ke capture 2013, yang paling saya ingat capture-an dari Dinda. Dia ngasih tahu saya kalau saya itu tipe orang insting (ada lima type: sensing, thinking, insting, instuition, feeling). Itu berarti saya otak tengah, kanan 50%, kiri 50%. Hal itu membuat saya bisa apa saja, tapi karena itu saya jadi gampang bosan. Yes, it’s true! Dia bilang gitu ke saya setelah kenal saya beberapa lama. Dia sadar dari sifat saya yang gampang emosian, tapi juga cepet redanya, responnya cepat, punya banyak kepribadian jadi susah ditebak. Mwihihi. Kalau kalian pernah baca salah satu postingan saya, yang judulnya What is Happiness, itu dia yang bilang. Tujuan saya hanya satu: bahagia. Pokoknya apa aja saya lakuin biar saya seneng, hihi.

Berlanjut ke 2014 yang isinya kalimat-kalimat motivasi, biar saya nggak nyerah, sama capture-an jadwal interview saya di sana-sini.

Dan ketika buka folder 2015 lah saya galau lagi. Ada capture-an dari seseorang. Seseorang yang berhasil membuka mata saya, bahwasanya selama ini saya bego, banget. Seseorang  yang menjadi motivasi saya untuk tetap bertahan, untuk tetap hidup. Seseorang yang membuat saya mikir, “Kamu selama ini ke mana aja sih? Saya nyariin kamu.” Dan seseorang yang pernah saya harapkan untuk jadi yang terakhir tapi ternyata Allah belum mengizinkan. Dia membuat saya terluka, tapi saya sadar, dia juga pernah membuat saya bahagia. Terima kasih kamu, ya. Untuk pernah datang ke hidup saya, membuat saya bahagia, membuatku menyadari bahwasanya tidak ada yang tidak mungkin, dan bahwasanya saya berharga. Terima kasih, sekali lagi. Terima kasih, untuk semuanya.

Dan ternyata, besok udah 2017 aja, ya. 2016 ini, ah, sudahlah. Tahun yang lumayan berat buat saya. Apa saja yang terjadi sama saya di tahun ini dan apa resolusi saya untuk 2017 saya ceritakan kapan-kapan, ya, hehe. Terima kasih sudah membaca J

Regards,

Karra

Rabu, 28 Desember 2016

Nothing is the same anymore.

Masih ingat banget hari dimana aku, Ocha, Eva, sama Vherlly makan bareng di Sambal van Java dan entah kenapa tetiba kita ngomong soal pernikahan. Ngomongin ini dan itu sampai akhirnya Ocha ngomong, "aku yang bakal terakhir nikah." Dan saat itu juga, aku ngomong dalam hati, "engga Cha, aku yang bakal terakhir nikah."

Sekarang kebukti bahwa apa yang aku predict itu bener. Ocha uda nikah tahun lalu, Vherlly November kemarin, dan Eva April 2017 nanti. Aku? Nggak usah ditanya :))

Semenjak lulus kuliah, harusnya aku sadar sih kalau hidup kami akan berjalan masing-masing. Nggak bisa kaya dulu lagi yang dengan gampangnya makan siang bareng, ngemall bareng, nonton bareng, atau pun ngafe bareng.

Ada masa ketika aku sudah mulai terbiasa tanpa mereka. Ngejalanin hari-hariku yang 'sendirian'. Dan aku merasa semua baik-baik saja. Aku bisa sendiri dan emang uda biasa sendiri.

Tapi sepertinya ketergantungan pada mereka masih ada. Ketemu mereka yang hanya satu jam dua jam itu berasa aku dapat vitamin yang bisa ngobatin betenya aku sama kerjaan dan orang-orang di kantor.

Dan yang aku takutin sekarang adalah sampai kapan aku harus tergantung sama mereka? Sekarang aja uda kerasa banget kalo Ocha uda sibuk ngurusin anak sama suaminya, Vherlly dengan keluarga barunya, Eva dengan persiapan pernikahannya, masa Ika mau terus-terusan ngriwehin mereka sih?

I mean harusnya aku uda bisa mandiri, nggak ngriwehin mereka lagi, nggak ketergantungan sama mereka, sadar diri kalo kami punya jalannya masing-masing, terlebih jangan gangguin Eva mulu karena Eva uda sabar banget dengerin curhatan dan keluhan aku tentang masalah percintaan, kerjaan, dan orang-orang di kantor yang nggak kelar-kelar. Bhay!

Duh, entahlah ini tulisan aku yang berantakan banget yang nggak punya konsep yang nggak tahu maksudnya mau nulis apa tapi entah mengapa Ika pengen aja nulis tentang how hard for me to face the fact that nothing is the same anymore.

Rabu, 23 November 2016

Night Conversation




Berawal pada hari Kamis, 17 November kemarin, ketika aku keluar dari sebuah minimarket, aku seakan melihat sesosok manusia yang sudah amat lama aku kenal. Lalu dia terlewat begitu saja setelah aku melihat plat nomor kendaraannya. Ada rasa ingin teriak memanggil namanya, yang namun pada akhirnya aku urungkan karena takut salah orang dan malu dilihatin orang sekitar.

Sampai kosan aku berusaha mencari kontaknya dari teman-temanku, lalu ku kirimkan pesan teks padanya menanyakan apakah dia barusan lewat daerah kosku. Tak ada balasan pada malam itu.

Keesokan harinya, dia membalas pesanku, menanyakan aku siapa, hal yang menurutku wajar karena saat ini ketika orang berganti hp, ratusan bahkan ribuan kontak lenyap sudah. Kami pun akhirnya berbalas pesan, hingga akhirnya pada malam harinya mengadakan pertemuan. Dan itu berarti, aku gak salah lihat orang.

Sesampainya kami di tempat makan, kami seakan tak kekurangan bahan pembicaraan, ada saja yang kami bahas, hingga akhirnya dia mengeluarkan pertanyaan, "Kita udah berapa lama ya nggak ketemu?"

"Semenjak lulus SMA kayanya." Aku berpikir sejenak, lalu aku ralat, "Eh enggak, pas kita kuliah kita ada reuni, tapi kita nggak ngobrol banyak."

Dia mengangguk-angguk dan aku tahu ada sesuatu yang dia pikirkan.

Lalu aku bertanya, "Emang kenapa?"

"Kamu berubah, banyak."

Aku mengernyitkan dahi. "Masa sih? Bukannya aku dari dulu begini?" Aku diam sejenak. Lalu kulanjutkan, "Atau aku emang berubah tapi aku nggak sadar ya?"

Ada hening sejenak diantara kita.

Dan aku pun penasaran. "Emang aku dulu kaya gimana?"

Dia terlihat berpikir sejenak, lalu berkata, "Hmm, ini penilaianku loh ya, jangan marah loh ya."

"Iya. Nggak papa," jawabku.

"Ika yang ku kenal dulu tuh, ika yang manja, yang disayang banget sama orang tuanya, yang apa-apa keturutan, yang ketika mau cerita sesuatu ke kamu tuh kaya 'alah ika ini gatau susahnya ngedapatin sesuatu'. Gitu. Ngerti kan maksud aku?"

Aku pun tertawa mendengarnya. Dalam hati sebenernya aku seneng, sebahagia itukah hidupku di mata orang lain? Tapi beneran deh ya seneng banget karena sesungguhnya aku pengen itu yang dilihat orang dari aku. Hidup aku ya seneng-seneng aja nggak ada susahnya. Ngapain juga kan sedih diumbar-umbar?

Ketahuilah ada penyesalan saat ini ketika aku gegalauan di fb, twitter, tumblr, dan blog ini. Tapi ya namanya manusia kadang pengen ngeluapin sedihnya juga kan ya.

Aku mungkin nggak secara langsung sadar kalau berubah, sih. Tapi aku percaya satu dua dan banyak hal yang terjadi di hidupku pasti secara nggak langsung ngerubah aku, pola pikir aku, dan kelakuanku.

Malam itu, aku belajar banyak banget hal dari dia. Malam itu berarti banget karena finally aku ngerasain lagi yang namanya punya teman yang bisa diajak sharing yang nggak ngejudge ini itu dan beneran ngedengerin dan mahamin.

Kami ngobrol dari setengah 8 sampai jam 11 malam. Aku sampai kos sekitar jam setengah 12, beberes kamar dan packing sampai jam 1, tidur setengah 2, dan bangun jam 3 karena ditelpon sopir taksi. Jam 4 pagi aku udah sampai bandara. What a day! Tapi entahlah, aku seneng banget punya temen ngobrol malam itu.

Dan ini seriusan sih, hidupku emang amat sangat harus disyukuri banget-banget karena apa yang terjadi di aku mungkin nggak ada apa-apanya dibandingin apa yang udah selama ini dia lewatin. Emang dasar ya, manusia sering lupa kalau masing-masing dari kita punya jalan sendiri-sendiri untuk dilewati dan dilalui. Percaya deh, Allah itu Maha Adil, kok. Jadi ya nggak perlu iri sama jalannya orang lain, gitu. Dan nggak usah ngejudge karena kita gatau jalan apa yang uda dia lewatin. Kita kenal dia di usianya yang ke 23 misal. Selama 23 tahun, kita gatau apa aja yang uda terjadi sama dia. Jadi ya nggak usah ngejudge seenaknya, gitu.

And last but not least, tadi aku nemuin tulisan Bara di twitter dan ini aku suka banget. Isinya, "Apa yang Mbak lihat dari seseorang adalah apa yang seseorang itu pilih untuk Mbak lihat, dan ada alasan kenapa seseorang tidak memperlihatkan hal-hal tertentu."

See you on the next post!

Selasa, 04 Oktober 2016

Depression?

Pagi ini gue tahu banget bahwa hari ini nggak akan ada kerjaan yang gue kerjain di kantor. Gue uda bawa buku dari kosan buat gue baca ngisi waktu kosong gue. Tapi sebelum gue baca buku, gue twitteran dulu dan nemulah tweet Lexy jaman baheulak yang bahas tentang depresi. Dan ya, gue sadar diri, gue di dalam tahap gejala depresi. Atau uda depresi?

Gue sekarang di dalam tahap bosan banget sama hidup gue. Hidup gue stuck di tempat. Apa yang gue kerjain di kantor itu-itu mulu dan nggak ganti-ganti. Anak sekolah aja tiap semesternya ganti pelajaran atau mata kuliah baru kan?

Kegiatan gue sehari-hari cuma di isi bangun pukul 5, berangkat pukul 7, di kantor ngerjain hal yang sama yang uda lebih dari setahun gue lakuin dan pukul 11 biasanya kerjaan gue uda kelar. Pukul 11 istirahat sampai pukul 12 dan dari pukul 12 sampai pukul 5 sore kerjaan gue nggak jelas dan gue paling nggak suka nganggur. If I can quit, i'll quit, but unfortunately i can't.

Pulang kantor pukul 5 sore, sampai kos pukul 6, dan setelah di kos gue nggak tahu mau ngapain. Kegiatan malam gue hanya diisi mainan handphone nggak jelas  atau video call sama mama papa atau adek sampai akhirnya pukul 9 malam gue tidur.

Tiap weekend hanya diisi dengan beberes kamar, nyuci baju, dan itu nggak butuh waktu seharian. Sisanya, gue hibernasi. Atau nge-mall kalau ada yang harus gue beli ataupun nonton kalau ada film yang pengen gue tonton. Atau main ke Jakarta ke tempat saudara yang hanya gue lakuin satu atau dua bulan sekali karena macetnya Jakarta nggak ketulungan.

Hidup gue berasa nggak guna. Tiap bulan gue hanya nunggu tanggal gajian lalu gue transfer ke mama papa adek dan udah gitu aja mulu sampai bosen. Kalau nggak ada mereka mungkin hidup gue lebih nggak guna lagi.

Di sini gue belum bisa nemu teman yang bisa diajak hangout ngopi cantik kaya teman-teman gue dulu. Gue sadar diri life style orang-orang di sini beda banget sama gue dan gue nggak bisa pura-pura jadi orang lain hanya untuk diterima.

Temen-temen kuliah gue sekarang di mana? Gue sadar mereka udah punya kehidupan masing-masing dan nggak seharusnya gue gangguin mereka. Gue harus bisa 'nyembuhin' gue sendiri tanpa harus ngerepotin mereka.

Entah uda berapa kalo gue di fase ini lalu gue bisa deal with the situation but sometimes perasaan itu muncul lagi. Bosan sama kerjaan banget banget banget. Jam segini aja gue bisa nulis blog kan?

Kenapa gue nggak ke psikolog? Dulu, gue pernah di satu titik di mana gue sadar gue harus ke psikolog bahkan gue ke psikiater pun udah pernah. Tapi gue rasa itu nggak cukup membantu meskipun di sini gue juga udah pernah cari info di mana psikolog atau pun psikiater yang bisa gue datengin tapi sampai sekarang itu cuma wacana dan belum gue lakuin.

Kalian yang baca ini boleh banget anggap gue gila. Boleh banget bilang gue lebay. I don't have a place or someone to share so the only thing i can do just write here. Entahlah, gue merasa dengan menulis agak sedikit ngebuat lega aja.

Gue nggak tahu sampai kapan bisa kuat, sampai kapan bisa nahan sendiri. Tapi setidaknya, gue nggak ngerepotin orang lain kan?

Udah ah, mau baca buku dulu. Bhay!