Kamis, 18 Januari 2018

This Town

Waking up to kiss you and nobody's there
The smell of your perfume still stuck in the air
It's hard
Yesterday I thought I saw your shadow running round
It's funny how things never change in this old town
So far from the stars
And I want to tell you everything
The words I never got to say the first time around
And I remember everything
From when we were the children playing in this fairground
Wish I was there with you now
If the whole world was watching I'd still dance with you
Drive highways and byways to be there with you
Over and over the only truth
Everything comes back to you
I saw that you moved on with someone new
In the pub that we met he's got his arms around you
It's so hard
So hard
And I want to tell you everything
The words I never got to say the first time around
And I remember everything
From when we were the children playing in this fairground
Wish I was there with you now
As if the whole world was watching I'd still dance with you
Drive highways and byways to be there with you
Over and over the only truth
Everything comes back to you
You still make me nervous when you walk in the room
Them butterflies they come alive when I'm next to you
Over and over the only truth
Everything comes back to you
And I know that it's wrong
That I can't move on
But there's something about you
If the whole world was watching I'd still dance with you
Drive highways and byways to be there with you
Over and over the only truth
Everything comes back to you
You still make me nervous when you walk in the room
Them butterflies they come alive when I'm next to you
Over and over the only truth
Everything comes back to you
Everything comes back to you

Song by Niall Horan

Rabu, 10 Januari 2018

Jealous

I'm jealous of the rain
That falls upon your skin
It's closer than my hands have been
I'm jealous of the rain
I'm jealous of the wind
That ripples through your clothes
It's closer than your shadow
Oh, I'm jealous of the wind
'Cause I wished you the best of
All this world could give
And I told you when you left me
There's nothing to forgive
But I always thought you'd come back, tell me all you found was
Heartbreak and misery
It's hard for me to say, I'm jealous of the way
You're happy without me
I'm jealous of the nights
That I don't spend with you
I'm wondering who you lay next to
Oh, I'm jealous of the nights
I'm jealous of the love
Love that was in here
Gone for someone else to share
Oh, I'm jealous of the love
'Cause I wished you the best of
All this world could give
And I told you when you left me
There's nothing to forgive
But I always thought you'd come back, tell me all you found was
Heartbreak and misery
It's hard for me to say, I'm jealous of the way
You're happy without me
As I sink in the sand
Watch you slip through my hands
Oh, as I die here another day, yeah
'Cause all I do is cry behind this smile
I wished you the best of
All this world could give
And I told you when you left me
There's nothing to forgive
But I always thought you'd come back, tell me all you found was
Heartbreak and misery
It's hard for me to say, I'm jealous of the way
You're happy without me
I-I-It's hard for me to say, I'm jealous of the way
You're happy without me



Song by Labrinth

Senin, 30 Januari 2017

I will just dim your stars

I cant resist to write this.

Entah sejak kapan kamu mengganggu pikiranku. Tapi entahlah, kedatanganmu belum bisa membuatku berhenti. Meski beribu kebaikan telah kau tunjukkan, dan tak perlu lagi kusangsikan.

Ada hal yang belum bisa kuterima, meski kutahu tiada yang sempurna. Namun aku bisa apa ketika logikaku berusaha keras menolaknya?

Kamu orang baik. Sungguh. Terima kasih untuk pernah ada.

You deserve someone who will give you the world. Believe me, I know how bright you shine. How your heart is a heart of gold, how if I wasn’t broken, I would crash into you fully and never look back. But right now, I will just dim your light. Right now, I don’t deserve your love. - Anna Bashedly

Sabtu, 31 Desember 2016

Flashback

Ceritanya lagi beberes isi laptop. Tapi namanya beberes, nggak mungkin kan langsung delete gitu aja tanpa dilihat atau dibaca dulu ini masih perlu atau engga? Dan itu berarti saya harus nanggung resiko flash back ke masa lalu. Jawabannya tentu saja aka nada rasa galau melanda *ahelah

Saya beli laptop ini sekitar tahun 2010. Mau beli yang baru tapi ngerasa nggak begitu butuh banget soalnya jarang saya pakai. Palingan hanya buat nulis dan nonton film doang. Buat kerjaan udah ada pc di kantor dan saya nggak pernah bekerja di luar jam kantor. Kalaupun harus di luar jam kantor itu berarti saya lembur dan kerjaan saya kerjakan pakai pc kantor.

Kemarin saya ngopy film lumayan banyak dari hard disk adek saya. Dan sekarang memory laptop saya udah mulai merah jadi harus diberesin isinya. Dipilah pilih mana yang masih harus disimpan mana yang sudah seharusnya saya hapus.

Foto-foto selalu jadi incaran saat beberes laptop karena fotolah yang mendominasi isi laptop saya disamping lagu dan film hehe.

Saat pertama saya buka folder bersisi capture-an tahun 2012, kegalauan saya dimulai. Kalian yang kenal saya banget pasti tahu itu masa kegalauan saya. Lucunya, sekarang saat saya baca saya malu sendiri. Kok saya bisa selebay itu, ya? Maklumlah anak remaja *alah (ngaku kalau udah tua, ceritanya). Tapi masa-masa itu membuat saya mengerti siapa orang-orang yang selalu ada untuk saya yang Alhamdulillah masih stay hingga sekarang.

By the way, meski semua hal itu telah lewat, saya menyadari luka itu belum sembuh. Masih ada rasa sakit di dalam ketika membaca semua pesan itu satu per satu. Ketika mengingat kejadian itu keping per keping. Luka itu masih ada. Apakah itu artinya saya belum bisa memaafkan? Entahlah. Apakah artinya saya belum move on? Saya nggak tahu. Apakah itu artinya saya ingin dia kembali ke hidup saya? Oh, kalau yang satu ini tentu tidak. Banyak hal di 2015 yang membuat mata saya terbuka lebar dan menyadari betapa bodohnya saya. Tapi, entah kenapa, saya ingin satu hal. Saya ingin melihat, dia, yang udah buat saya patah hati, sakit hati, nangis berhari-hari, sakit muntaber-radang-thypus, hingga IP saya dua koma. Saya pengen banget lihat dia. Nggak akan saya apa-apain, cuma mau lihat aja, gitu.

Berlanjut ke capture 2013, yang paling saya ingat capture-an dari Dinda. Dia ngasih tahu saya kalau saya itu tipe orang insting (ada lima type: sensing, thinking, insting, instuition, feeling). Itu berarti saya otak tengah, kanan 50%, kiri 50%. Hal itu membuat saya bisa apa saja, tapi karena itu saya jadi gampang bosan. Yes, it’s true! Dia bilang gitu ke saya setelah kenal saya beberapa lama. Dia sadar dari sifat saya yang gampang emosian, tapi juga cepet redanya, responnya cepat, punya banyak kepribadian jadi susah ditebak. Mwihihi. Kalau kalian pernah baca salah satu postingan saya, yang judulnya What is Happiness, itu dia yang bilang. Tujuan saya hanya satu: bahagia. Pokoknya apa aja saya lakuin biar saya seneng, hihi.

Berlanjut ke 2014 yang isinya kalimat-kalimat motivasi, biar saya nggak nyerah, sama capture-an jadwal interview saya di sana-sini.

Dan ketika buka folder 2015 lah saya galau lagi. Ada capture-an dari seseorang. Seseorang yang berhasil membuka mata saya, bahwasanya selama ini saya bego, banget. Seseorang  yang menjadi motivasi saya untuk tetap bertahan, untuk tetap hidup. Seseorang yang membuat saya mikir, “Kamu selama ini ke mana aja sih? Saya nyariin kamu.” Dan seseorang yang pernah saya harapkan untuk jadi yang terakhir tapi ternyata Allah belum mengizinkan. Dia membuat saya terluka, tapi saya sadar, dia juga pernah membuat saya bahagia. Terima kasih kamu, ya. Untuk pernah datang ke hidup saya, membuat saya bahagia, membuatku menyadari bahwasanya tidak ada yang tidak mungkin, dan bahwasanya saya berharga. Terima kasih, sekali lagi. Terima kasih, untuk semuanya.

Dan ternyata, besok udah 2017 aja, ya. 2016 ini, ah, sudahlah. Tahun yang lumayan berat buat saya. Apa saja yang terjadi sama saya di tahun ini dan apa resolusi saya untuk 2017 saya ceritakan kapan-kapan, ya, hehe. Terima kasih sudah membaca J

Regards,

Karra

Rabu, 23 November 2016

Night Conversation

Berawal pada hari Kamis, 17 November kemarin, ketika aku keluar dari sebuah minimarket, aku seakan melihat sesosok manusia yang sudah amat lama aku kenal. Lalu dia terlewat begitu saja setelah aku melihat plat nomor kendaraannya. Ada rasa ingin teriak memanggil namanya, yang namun pada akhirnya aku urungkan karena takut salah orang dan malu dilihatin orang sekitar.

Sampai kosan aku berusaha mencari kontaknya dari teman-temanku, lalu ku kirimkan pesan teks padanya menanyakan apakah dia barusan lewat daerah kosku. Tak ada balasan pada malam itu.

Keesokan harinya, dia membalas pesanku, menanyakan aku siapa, hal yang menurutku wajar karena saat ini ketika orang berganti hp, ratusan bahkan ribuan kontak lenyap sudah. Kami pun akhirnya berbalas pesan, hingga akhirnya pada malam harinya mengadakan pertemuan. Dan itu berarti, aku gak salah lihat orang.

Sesampainya kami di tempat makan, kami seakan tak kekurangan bahan pembicaraan, ada saja yang kami bahas, hingga akhirnya dia mengeluarkan pertanyaan, "Kita udah berapa lama ya nggak ketemu?"

"Semenjak lulus SMA kayanya." Aku berpikir sejenak, lalu aku ralat, "Eh enggak, pas kita kuliah kita ada reuni, tapi kita nggak ngobrol banyak."

Dia mengangguk-angguk dan aku tahu ada sesuatu yang dia pikirkan.

Lalu aku bertanya, "Emang kenapa?"

"Kamu berubah, banyak."

Aku mengernyitkan dahi. "Masa sih? Bukannya aku dari dulu begini?" Aku diam sejenak. Lalu kulanjutkan, "Atau aku emang berubah tapi aku nggak sadar ya?"

Ada hening sejenak diantara kita.

Dan aku pun penasaran. "Emang aku dulu kaya gimana?"

Dia terlihat berpikir sejenak, lalu berkata, "Hmm, ini penilaianku loh ya, jangan marah loh ya."

"Iya. Nggak papa," jawabku.

"Ika yang ku kenal dulu tuh, ika yang manja, yang disayang banget sama orang tuanya, yang apa-apa keturutan, yang ketika mau cerita sesuatu ke kamu tuh kaya 'alah ika ini gatau susahnya ngedapatin sesuatu'. Gitu. Ngerti kan maksud aku?"

Aku pun tertawa mendengarnya. Dalam hati sebenernya aku seneng, sebahagia itukah hidupku di mata orang lain? Tapi beneran deh ya seneng banget karena sesungguhnya aku pengen itu yang dilihat orang dari aku. Hidup aku ya seneng-seneng aja nggak ada susahnya. Ngapain juga kan sedih diumbar-umbar?

Ketahuilah ada penyesalan saat ini ketika aku gegalauan di fb, twitter, tumblr, dan blog ini. Tapi ya namanya manusia kadang pengen ngeluapin sedihnya juga kan ya.

Aku mungkin nggak secara langsung sadar kalau berubah, sih. Tapi aku percaya satu dua dan banyak hal yang terjadi di hidupku pasti secara nggak langsung ngerubah aku, pola pikir aku, dan kelakuanku.

Malam itu, aku belajar banyak banget hal dari dia. Malam itu berarti banget karena finally aku ngerasain lagi yang namanya punya teman yang bisa diajak sharing yang nggak ngejudge ini itu dan beneran ngedengerin dan mahamin.

Kami ngobrol dari setengah 8 sampai jam 11 malam. Aku sampai kos sekitar jam setengah 12, beberes kamar dan packing sampai jam 1, tidur setengah 2, dan bangun jam 3 karena ditelpon sopir taksi. Jam 4 pagi aku udah sampai bandara. What a day! Tapi entahlah, aku seneng banget punya temen ngobrol malam itu.

Dan ini seriusan sih, hidupku emang amat sangat harus disyukuri banget-banget karena apa yang terjadi di aku mungkin nggak ada apa-apanya dibandingin apa yang udah selama ini dia lewatin. Emang dasar ya, manusia sering lupa kalau masing-masing dari kita punya jalan sendiri-sendiri untuk dilewati dan dilalui. Percaya deh, Allah itu Maha Adil, kok. Jadi ya nggak perlu iri sama jalannya orang lain, gitu. Dan nggak usah ngejudge karena kita gatau jalan apa yang uda dia lewatin. Kita kenal dia di usianya yang ke 23 misal. Selama 23 tahun, kita gatau apa aja yang uda terjadi sama dia. Jadi ya nggak usah ngejudge seenaknya, gitu.

And last but not least, tadi aku nemuin tulisan Bara di twitter dan ini aku suka banget. Isinya, "Apa yang Mbak lihat dari seseorang adalah apa yang seseorang itu pilih untuk Mbak lihat, dan ada alasan kenapa seseorang tidak memperlihatkan hal-hal tertentu."

See you on the next post!