Minggu, 25 September 2016

Pasar dan Pernikahan

Ceritanya tiap kali gue ada waktu luang, gue akan main ke Pondok Gede tiap weekend, ke rumah saudara gue. Begitu juga yang gue lakuin tanggal 17 kemarin. Sabtu siang gue berangkat, sampe di sana sore. Padahal kalau nyetir sendiri lewat tol mah cuma sejam. Berhubung gue belum beli mobil, cara gue ke sana ya dengan naik krl nyambung transjakarta (lagi nabung buat beli mobil, doain aja).

Tanggal 18 pagi, gue diajakin ke Pasar Jatinegara buat berburu souvenir. Kakak sepupu gue mau nikah November nanti. Doain biar semuanya lancar, ya.

Gue berasa pengen nge-apresiasi diri gue sendiri gitu karena uda main ke pasar. Haha. Maklum lah, gue amat sangat benci tempat yang crowded such as pasar.

Sampai di sana langsunglah kita menuju satu per satu kios yang jual souvenir pernikahan. Dan gue jadi tahu loh harga souvenir nikahan teman-teman gue. Hihi. Harganya termasuk murah menurut gue per satuannya, kalau udah dikali jumlah undangan udah beda cerita, ya. Tapi jangan salah, kualitasnya lumayan oke, kok.

Kalau ada yang mau tanya, "Kenapa sih Ka nggak pesan aja gitu ke toko souvenir tinggal lihat katalog, bayar, nanti barang dianterin, dan nggak usah panas-panasan di pasar."

Alasannya adalah kakak gue butuh barangnya cepat, mengingat acara yang tinggal sebulan lagi, dengan harga yang terjangkau, sesuai sama kemampuan.

Point gue kenapa gue nulis blog ini adalah bukan betapa kerennya gue yang udah ke pasar *alah* tapi lebih ke pelajaran apa yang gue dapat dengan terlibatnya gue di acara nikahan kakak gue nantinya.

Nikah itu mahal.

Yup! It's true. Mungkin beberapa orang ada yang berpendapat, 'yang penting sah'. Tapi menurut gue, nikah yang cuma sekali seumur hidup itu pengen gue jadiin salah satu moment penting di hidup gue. Bukannya gue menargetkan nikahnya gue nanti harus mewah, ya. Tapi gue ingin berbagi moment itu dengan keluarga dan teman terdekat gue nantinya. Di mana pernikahan yang gue mimpikan sepertinya menghabiskan dana lumayan banyak buat catering, rias, foto, souvenir, dekor, gedung, seragam, dll. Meskipun gue bisa menjamin, undangan gue nggak akan sebanyak teman-teman gue.

He must be the right one.

Suami kamu, atau pasangan kamu nantinya, haruslah orang yang kamu yakinin paling tepat untuk kamu jadikan pendamping hingga akhir hayatmu. Teman yang bisa diajak berbagi suka duka, sehat sakit, dan kaya miskin.

Pernah kepikiran nggak sih misal Allah kasih kamu waktu hingga usia 63 (seperti Nabi Muhammad). Kamu nikah umur 25. It means that lebih dari separuh hidup kamu akan kamu habiskan bersamanya, lebih dari waktu yang kamu habiskan denga orang tua kamu, yang uda merawat, mengasuh, mengurus, mendidik, mendampingi, dan menjaga kamu sampai kamu dewasa sehingga bisa menentukan atau mengambil sendiri keputusan apa untuk masa depanmu.

Saat ini adalah musim ketika banyak dari teman seangkatan gue yang memutuskan untuk menikah. Bahkan beberapa dari mereka sudah memiliki momongan. Kalau ada yang tanya ke gue, "lo kapan?" Gue akan jawab dengan sebuah senyuman.

Nikah mahal dan saat nikah nanti gue nggak ingin membenani orang tua gue dengan gue minta uang ke mereka.

Saat ini gue single dan pikiran akan pernikahan hanya terlintas sedetik dua detik dipikiran gue yang akan berganti dengan pikiran lain.

Menurut gue, selain dua point di atas, ada hal yang lain di kepala gue yang selama ini gue. Sebuah pertanyaan tentang apakah gue udah siap ke jenjang yang amat sangat serius itu?

Jawabannya adalah belum siap.

Saat ini gue masih menjadi orang yang amat sangat menikmati kesendirian. Memuaskan dan menuruti apa yang diri gue inginkan. Makan nonton belanja jalan-jalan sekehendak hati gue, tanpa butuh persetujuan orang lain. Masih ingin 'nyenengin diri sendiri' lebih tepatnya.

Ketika gue punya pasangan nanti, gue sadar gue nggak bisa sebebas ini. Gue harus siap 'diatur'. Salah satu hal yang sebenernya gue benci. Gue pun harus berbagi hidup bersamanya. Dia ada kondangan kah, acara ulang tahun kah, kumpul keluarga kah, gue pasti harus ikut dan itu berarti hidup gue nggak akan sebebas ini lagi.

Setengah hidupnya dia akan jadi milik gue, dan setengah hidup gue akan jadi milik dia.

Gue pun belum siap atas sebuah komitmen. Honestly, trauma dari yang kemarin masih ada. Rasa takut terulang lagi ada dipikiran gue. Gimana kalo nanti dia ninggalin gue. Gimana kalo nanti dia se-ling-kuh... You know I always love hard. Yang ketika disakiti, nggak hanya jiwa gue yang sakit tapi fisik gue juga akan kena. Nggak perlu gue cerita ulang kan apa yang terjadi sama gue beberapa tahun lalu itu? (What a shame.)

Selain itu gue belum ada pikiran untuk 'iya, saatnya gue untuk berhenti.' Ingin berhenti selalu ada ketika gue bersama seseorang. Tapi ketika gue single begini, gue selalu merasa, 'sabar, sebentar lagi your prince will coming.'

Yang gue maksud adalah ketika ada seseorang yang datang, yang bisa membuat gue jatuh hati sama dia, yang bisa membuat gue memutuskan untuk berhenti, yang bisa membuat gue lupa akan trauma masa lalu gue, yang bisa membuat gue berpikir bahwa 'he is the right one and you need to stop now', ketika itulah my prince has coming!

Tapi sampai saat ini, belum ada yang bisa membuat gue seperti itu. Ada yang mengganjal di hati ketika ada seseorang yang mendekat. Dia kah? I think the right one tidak akan membuat berpikir seperti itu. I think the right one will make my heart say loudly, 'he is truly yours', when he come.

Entahlah. Gue nggak ngerti.

Entah berapa orang yang telah datang yang pada akhirnya hanya tersakiti. Beberapa orang menerima dengan lapang dada. Beberapa lagi tidak terima dan berbalik jelek-jelekin gue, ngomongin gue dibelakang, dan seakan melihat gue kek najis banget hingga waktu ketemu pun buang muka.

Maaf.

Hanya itu yang bisa aku katakan.

Sungguh, aku tak bermaksud menyakiti kalian. Mungkin caraku menunjukkan yang tidak tepat. Aku hanya tak tahu bagaimana cara yang baik yang membuat kalian tak terluka.

Maaf.

Btw, kenapa jadi curhat begini? Haha.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar