Senin, 01 Desember 2014

Too Fast To Think About

"Kar, mau nikah umur berapa?"

"Hmm... Berapa ya? Bentar.... 22 kali ya."

Sumber: BrideStory

-sebelum saya lanjutkan, coba baca tulisan saya sambil dengerin instrument time-nya depapepe

Itu pernyataan yang gue lontarkan sekitar tujuh taun lalu, saat usia gue menginjak pada angka 15 tahun. Pertimbangan gue saat itu adalah, gue lulus SMA usia 17 tahun (belum ada malah saat itu), perkiraan kuliah 4 tahun jadi lulus umur 21 (dan alhamdulillah saat itu lulus usia 20 tahun 11 bulan), kerja setahun terus nikah (waktu itu pikirannya abis lulus langsung dapet kerja gitu, kenyataannya sekarang ya gitu lah). Saat itu juga gue mikirnya bakal langgeng gitu sama yang lagi deket sama gue saat itu, kalo engga ya putus dijalan terus pas kuliah dapet gantinya. Sesimple itu. Dan kenyataannya sekarang?

Usia gue saat ini 22 tahun. Dan pikiran tentang itu?
Sepertinya masih jauh dari angan-angan. Iya sih, pikiran tentang itu ada. Tapi sekarang gue sadar bahwa semua nggak sesimpel itu.

Satu per satu undangan pernikahan dari temen-temen datang. Iya sih, saat gue kuliah pun banyak temen gue yang uda nikah juga. Tapi ya gitu, nggak ngundang-ngundang. Saat nerima undangan pikiran gue cuma satu, mereka lebih dulu 'melangkah ke gerbang baru' yang entah kapan gue akan melakukan hal serupa.

Seiring bertambahnya usia, pemikiran juga pasti berbeda. Saat kamu SD, yang kamu pikirkan mungkin, "Nanti lanjut di SMP mana ya?" Begitu juga saat SMP, "Pengen ke SMA ini deh." Waktu SMA mungkin pemikiran sudah sedikit berubah, mulai memikirkan mau kuliah dimana dan mau jadi apa. Saat awal kuliah pun, pembicaraan dengan teman sebaya hanyalah sebatas membicarakan tentang ospek, mau kerja praktek dimana, sama siapa partnernya dan hawa-hawanya pengen-pengen cepet lulus. Tapi saat sudah mulai skripsi, pastilah pembicaraan berbeda lagi. Hingga akhirnya tibalah pembicaraan dengan tema 'pernikahan'. Dan akan terus begitu seterusnya seiring bertambahnya waktu dan usia.

Di awal Januari 2015, salah seorang teman akan melangsungkan pernikahan. Nggak pernah nyangka juga bahwa dia akan menikah secepat itu karna selama kami berteman, dia yang menargetkan usia paling tinggi untuk menikah dibanding yang lainnya. Kalau yang lain (dan juga gue) pengennya nikah di usia sekitaran 25 (iya, pemikiran gue berubah seiring berjalannya waktu), dia menargetkan di usia 27-28. Tapi nggak ada yang pernah tahu rencana Allah kan? Manusia berusaha (berencana), tapi pada akhirnya Allah jugalah yang menentukan.

Pertanyaan muncul di diri gue sendiri ketika satu persatu teman dekat mulai merencanakan pernikahan. Kalau itu terjadi sama gue, apa gue siap? Banyak orang yang menikah karena ingin (atau mau), bukan karena siap. Bukankah keinginan dan kesiapan adalah dua hal yang berbeda?

Mama sering kali memberi tahu, bahwa menikah bukanlah hal yang mudah. Akan banyak hal sulit yang harus dilalui—berdua. Mengurus suami, mengurus rumah, mengurus anak, management keuangan, dan hal lain sebagainya. Salut banget gue sama temen seusia gue yang uda sanggup ngelakuin itu semua.

Tentang jodoh, mulai saat ini saya serahkan semua pada Allah *habisnya gue selalu ngganggap orang yang gue 'temukan' itu jodoh gue, ternyata kaga*. Bukannya pasrah sepasrahpasrahnya duduk manis di rumah nunggu jodoh yang dikirim Allah loh ya. Maksud gue disini ya, perbanyak kenalan, perbanyak temen, tapi nggak usah maksain juga kalo misal 'kecantol sama seseorang' toh jodoh pasti bertemu *ceilah. Terus perbaiki diri jadi lebih baik biar nanti dapetnya baik juga. Ya latian make up lah mulai dari sekarang *soalnya karra selama ini taunya bedak doang dan memang dokter nggak ngijinin juga karra pake make up macem-macem*. Be the best self, gitchhu ~ tapi gue sih selow, nggak akan nerima cowo gegara keburuburu atau kesepian. Pengennya taaruf aja biar nggak banyak dosa. haha

Kalau ditanya tentang type, gue nggak bisa jawab soalnya dari semua orang dari masa lalu gue, semuanya beda-beda. Dari mulai hobi, sifat, tampang, semuanya beda. Dan jujur aja dari mereka (yang pernah nyantol dihati) nggak ada tuh yang ganteng, seriusan. Ganteng dimata gue si karena gue suka jadi terlihat ganteng. Kalau dimata orang lain sih mereka beneran cakep *terus Karra dilempar sendal*. Pernah nih gue deket sama cowok yang ganteng banget (kalau ini beneran ganteng, bukan ganteng karena gue suka), pas semobil, ternyata banyak hal yang gue temuin yang akhirnya ngebuat gue say no.

Well, gue selalu berharap semoga seseorang yang gue 'temukan' selanjutnya bisa menjadi orang terakhir dan orang yang tepat—terbaik yang dikirimkan Allah dan gue merasa 'he is the right one'. Dan tentang pernikahan gue penginnya sekitar 25. Aamiin.

PS. 
Ngomong-ngomong soal nikah nih ya, coba deh buka web Bride Story isinya kece binggoww. Gue nggak bermaksud iklan, toh gue nggak dibayar. Tapi asli, buka web itu rasa-rasanya ya gitu deh. Kan every girl has that perfect plan of what her wedding would be like :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar