Selasa, 09 Desember 2014

Hope

Kamu adalah orang yang terlalu banyak berharap.


Kurang lebih begitulah yang dikatakan seseorang saat aku menanyakan kepadanya, "Menurut kakak aku orangnya gimana?"

Harus gue akui bahwa itu benar adanya. Gue adalah orang yang terlalu banyak berharap. Kenapa gue bisa menjadi seseorang yang seperti itu? Karena gue percaya kekuasaan Allah tak terbatas, dan semuanya mungkin saja terjadi (kecuali hal-hal tertentu seperti gue pengen punya kakak kandung cowok).

Mungkin ada alasan lain juga sih kenapa gue tumbuh menjadi seseorang seperti itu. Karena sampai pada saat itu, boleh dibilang bahwa tiap kali gue mencoba sesuatu, atau melakukan sesuatu, tingkat keberhasilan gue bisa dibilang tinggi. Delapan puluh persen mungkin.

Dan sekarang,
ketika gue mendapati atau mengalami banyak hal yang mungkin jauh dari bayangan gue, jauh dari apa yang telah gue perkirakan. Kalo dulu, keberhasilan gue delapan puluh persen, saat ini mungkin gue banyak menjumpai kegagalan, dibandingkan keberhasilan. It's like gelas yang tadinya penuh dengan air semakin lama air di dalam gelas semakin sedikit dikarenakan ada lubang disana-sini. Air tersebut adalah harapan, dan lubang tersebut adalah kegagalan.

Gue sekarang tahu kenapa waktu itu saudara gue bilang bahwa gue adalah orang yang super optimist dan sekarang dia benci dengan gue yang sekarang ini. Karena pada saat itu gue selalu percaya dengan kemungkinan (keberhasilan) apapun dan percaya bahwa keajaiban itu ada. Sekarang gue seperti zombie yang 'ya udah coba aja', tapi dengan tingkat harapan yang nggak setinggi dahulu karena gue tahu gimana rasanya jatuh berkali-kali.

Iyasih selalu ada keinginan dalam diri gue untuk kembali penuh harapan seperti dahulu yang gue juga tahu bahwasanya ketika gue nggak mendapat apa yang gue inginkan yang ada adalah kekecewaan. Don't hope too much because too much can hurt you so much. Itu yang sering kali gue denger.

Ah! Gue benci diri gue yang pengeluh seperti ini. Gue benci. Banget.

Harapan. Sesuatu yang dulunya ada banyak di diri gue seakan saat ini gue harus berusaha sekuat mungkin untuk mempertahankannya. Gue boleh marah, gue boleh nangis sejadi-jadinya, gue boleh garuk-garuk tembok, gigit-gigit pager, tapi gue nggak boleh kehilangan harapan kan? Rasa-rasanya gue sedang mengumpulkan kembali air yang udah jatuh ke tanah untuk kembali gue masukkan ke dalam gelas.

Kamu tahu kenapa aku selalu suka drama korea? Karena drama korea selalu punya cerita happy ending, dan selalu saja there is someone who always on her side, no matter what happens. Dan gue selalu berharap hal itu terjadi sama gue. Walaupun kakak gue yang di Korea bilang, hidup di Korea nggak seindah yang gue lihat di drama-drama. Tentu aja seperti itu. Drama korea yang nulis script writer, dan hidup kita yang nulis Allah. Dan kita seringkali nggak tahu apa yang terjadi esok, lusa, bahkan satu detik setelahnya.

Saat bangun tidur tadi, tangisan gue semalem berlanjut dan amat sangat banyak pertanyaan di kepala gue yang ingin gue tanyain ke Allah. How and why. Banyak juga hal yang ingin gue tulis di sini tapi pada kenyataannya isi kepala gue tadi dan saat ini amat sangat berbeda.

Kalau ada mesin waktu, gue ingin semua hal yang terjadi dua tahun belakangan ini bisa di perbaiki. Entah sejak kapan gue sering kali mimpi buruk, jangan bilang gue lupa doa karena gue selalu berdoa setiap mau tidur. Tiap kali aku tersadar bahwa itu mimpi, alhamdulillah banget karena pada kenyataannya itu nggak benar-benar tejadi sama gue. Dan apa yang terjadi sama gue dua tahun ini, gue juga berharap bahwa it was a nightmare and when I woke up, there is somebody on my side, tell me that 'everything is okay'.

Salah seorang dari masa lalu gue sering berkata, "Kamu kenapa bisa sedih banget sih kalau dapet nilai ulangan jelek?" Tapi dia nggak pernah minta gue buat ngilangin sifat itu, bahkan selalu kasih support tiap kali hal itu datang ke gue. Dan itulah mipi buruk yang sering terjadi, gue nggak bisa ngerjain soal ujian, dan ketika gue bangung gue menyadari itu mimpi dan alhamdulillah gue uda lulus kuliah. Tapi setelah lulus kuliah ada ujian yang lebih berat, yang nggak bisa remed, yang nggak pernah diajarin sebelumnya gimana cara ngerjainnya.

Seorang dari masa lalu itu juga yang selalu bisa ngebuat gue tenang tiap kali terjadi hal buruk yang terjadi sama gue. "Yang penting kamu uda coba. Dan semuanya akan baik-baik saja," kata sederhana tapi begitu ajaib dan saat ini gue merindukan kata-kata itu terucap dari seseorang yang bisa menenangkan.

Gue galau cowok? Jangan tanya ke gue gimana rasanya karena entah uda berapa tahun gue lupa rasanya galau karena cowok. Jatuh cinta gimana rasanya aja gue uda lupa. Inget satu dua kali orang dari masa lalu iya, tapi kalau galau karenanya sepertinya engga. Karena ambisi gue selalu bisa ngalahin perasaan gue terhadap seseorang. Gue juga nggak tahu kenapa.

Allah, Karra semalem nangis. Allah pasti tahu juga kenapa. Karra sempet juga pengen (atau udah) marah sama Allah tapi Karra juga sadar Karra bukan apa-apa. Allah bisa melakukan apapun hanya dengan berkata 'kun fayakun'. Allah, mungkin Karra nya lagi bingung, nggak tahu lagi musti ngapain, dan banyak hal lagi yang Karra rasain yang mungkin uda Karra katakan entah disadari atau tidak. Allah, Karra tahu banget harusnya kalau ngobrol berdua aja, nggak perlu ditulis bahkan dipublish kaya gini. Tapi Allah juga pasti tahu, kalau dengan menulis bisa sedikt membuat Karra tenang walaupun nanti dipublish terus didelete atau mungkin tetep ke publish sampai kapanpun.

Allah, setiap hari aku berfikir dan berkata pada diri sendiri, "Sebentar lagi Ika, sebentar lagi." Bahwa semua ini pasti akan ada ujungnya kan ya? Seperti puasa yang akan berhenti ketika maghrib tiba. Seperti facial yang sakitnya minta ampun tapi buat ngebersihin muka. Begitu juga sakit yang aku rasain sekarang baik buat aku kan, Allah? Selalu ada banyak hal untuk disyukuri.

Allah, maafkan segala hal buruk yang telah ku lakukan dan apapun yang terjadi nanti tolong jangan biarkan aku kehilangan harapan karena itu yang aku punya.


Terimakasih untuk semuanya, Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar