Minggu, 26 Oktober 2014

Drama Queen


Malam itu, seorang yang gue anggap sahabat, BBM gue.

"Kalla :'("

"Kenapaaaah? Are you okay?"

"Lagi galau, Kalla. Gue lagi ribut sama mantan gue."

Seketika gue yang tadinya kemal --kepo maksimal-- jadi ketawa ketiwi dan ngomong sendiri, "yaelah ini anak masih aja galau mantan."

Lalu ceramah yang begitu amat panjang, sok-sok menasehati, sok-sok ngerasa paling bener, sok-sok tahu segalanya, gue ketik tanpa rasa dosa dan bersalah lalu gue kirim ke dia.

Hell to the lo! Hello! Ngapain sih galauin mantan?
Bagi gue kalo uda mantan ya udah. Gue gue elo elo. Nggak ada hubungannya lagi. Mau sok-sokan keren gitu putus masih komunikasi? Modusnya sih jaga silaturahmi. Tapi aslinya mah gagal move on. Emang silaturahmi harus gitu BBM-an sms-an whatsapp-an line-an tiap hari? *berasa promosi social messenger* Kalo jadinya malah bikin sakit hati diri sendiri gue sih ogah ya. *lalu nyanyi *sakitnya tuh di sini di dalam hatiku - sakitnya tuh di sini melihat kau selingkuh - sakitnya tuh di sini pas kena hatiku - sakitnya tuh di sini kau menduakan akuuu ~ *sambil goyang dumang *karra apal banget gitu sama lagunya

Nggak heran sih gue, kalau sekarang dia galau, karena dari awal gelagatnya uda keliatan. Dari awal banget sebelum dia pacaran sama itu cowok --lalu dia putus-- gue uda tahu bakal kaya gini. Masalahnya dari dulu gue uda bilang sama dia, "Yakin lo mau sama ini cowok? Cowok yang ngambekan gitu? Nggak mau lihat yang lain dulu?" *berasa mau beli sepatu* Soalnya bagi gue cowok ngambekan tuh nggak kece bingo! Yang boleh ngambek itu cuma cewek sama anak kecil. Haha. Tapi akhirnya mereka tetep jadian, dan sesuai prediksi gue, nggak lama lalu putus. Oke bye!

Tapi kan gak etis ya kalau gue ceramah ini itu tanpa tau alasan gegalauannya. Gue lalu tanya ke dia. Kenapa gitu galau? Masih suka? Masih cinta? Gagal move on? Atauuuu takut kesepian? Karena bagi gue sah-sah aja sih galauin mantan kalau masih cinta atau gak bisa move on. And she said, dia takut kesepian, seperti yang udah gue duga. Sesuai juga dengan alasan kenapa dulu nerima si cowok. Because of uda ga tahan jomblo. Please! *pegangan tembok*

Uda ceramah panjang lebar gitu, gue kemudian ingat satu hal, bahwasanya apa yang nggak penting buat kita boleh jadi menjadi sesuatu yang penting buat orang lain. Apa yang kita anggap sepele, boleh jadi krusial bagi orang lain. And sometimes, people don't always need advice. Sometimes, all they need is a hand to hold, an ear to listen, and a heart to understand. Gue lupa akan hal itu. Dan seketika itu juga gue ketik, "Maafin gue." Karena uda ngerasa sok banget ceramah ini itu. Tapi gue masih kekeuh sih berpendapat kalau udah mantan ya udah. *kemudian ditimpuk*

Iya. Apa yang sepele buat kita, boleh jadi krusial buat orang lain. Itu juga yang jadi alasan gue kenapa gue nggak suka ada orang yang ngegampangin sesuatu atau ketika gue ngomong panjang lebar dia hanya jawab, "gampang." Lo nggak akan pernah tahu apa yang terjadi satu detik pun yang akan datang kan? Ketika sesuatu yang lo anggap gampang itu nggak berjalan sesuai rencana lo apa lo masih bisa beranggapan bahwa itu gampang? Makanya gue lebih suka dijawab dengan kata lain selain gampang, seperti "okay" atau "nanti ya". Apapun selain gampang. Mungkin karena didikan mama dari kecil juga sih, bahwasanya kita nggak boleh ngegampangin sesuatu. Secara proporsioanl aja sih lebih tepatnya, yang simple ya simple yang harus diperhatiin ya diperhatiin. Maksudnya nggak semuanya digampangin, gitu.

Karra tiap ngomong sesuatu sering banget ngebawa-bawa mamanya ya. Hehe. Kenapa emangnya? Nggak salah kan? Lo mau bilang gue "anak mama", "anak manja", atau apapun itu terserah lah ya. Emang gue anak mama. Lo iri gitu? Lo iri soalnya mama lo nggak sesayang itu kan sama lo? Lo iri soalnya mama lo nggak punya waktu sebanyak itu buat lo kan? Lo iri karna mama lo nggak seperhatian itu kan? *karra gitu banget ya *lalu digampar

Gue sekarang mencoba cuek sih. Dalam artinya nggak tertalu musingin apa kata orang. Ada beberapa yang bilang gue cuek, tapi ada juga yang bilang gue over sensitive. Dua-duanya bener, tergantung konteks masalahnya. Gue bisa aja tetep biasa aja di depan orang yang ngehinabina gue, saking cueknya. Tapi, gue bisa aja tetiba nangis kalau ngelihat sesuatu yang ironis semacem anak-anak jalanan yang harusnya menikmati masa bermain dan belajar, tapi karena keadaan mereka harus panas-panasan ngamen buat cari uang. Emang gue lebay kan? :)

Dulu kalo gue dibilang anak mama ataupun anak manja, gue cuma senyum-senyum dan rasanya pengen ngebela diri, "gue nggak semanja itu" atau "gue nggak seanak mami itu". Tapi sekarang gue bersyukur aja kalau ada yang ngomong kaya gitu. Itu kan tandanya mereka tahu ya kalau aku disayang mama banget banget. Hihi.

Ketika banyak orang bertanya-tanya kenapa gue mau diatur mama papa ini itu, yang apa-apa harus minta ijin, yang nggak boleh pulang malem, yang apa-apa diceritain ke orang tua, alasan gue simple, gue nyaman dengan hal itu, dan gue yakin itu karena orang tua sayang sama gue.

Lo mau bilang gue anak manja? Silakan. Lo mau bilang gue lebay saat menanggapi suatu hal? Silakan. Lo mau bilang gue drama queen? Boleh banget! Bahkan lo mau bilang gue gagal move on karena gue sampai sekarang masih single juga nggak papa. Gue nggak bakal bilang kalau buat gue pacaran dan jatuh cinta itu nggak sesimple itu, kok. Nggak sesimple aku cinta kamu-kamu cinta aku-hayuk mari jadian. Atau kamu baik banget-aku cinta deh sama kamu. Engga kok, Karra-nya nggak akan bilang gitu. *tapi lo barusan ngetik apaan nyet?

Begini mbak-mbak, mas-mas. Kalau move on diukur sebatas 'udah punya pacar baru' apa kalian bisa ngejamin kalau dia benar-benar cinta sama pacar barunya dan udah bener-bener lupa sama yang lama? Kalau belum punya pacar baru di bilang nggak bisa move on apa kalian bisa ngejamin di hatinya masih selalu ada cinta buat mantannya dan akan selalu menanti si mantan balik lagi? Dalamnya hati cuma diri sendiri dan Tuhan yang tahu.

Semua orang punya pendapat sendiri dalam suatu hal kan? Kalau sahabat gue tadi galauin mantannya ya itu hak dia. Kalau gue anggap kalau uda mantan yaudah itu hak gue. Silakan beranggapan semau-mau lo, sebebas-bebas lo, asal nggak ngelanggar hak orang lain sih.

Ini kenapa tulisan gue jadi panjang banget gini ya. Tapi terserah lo juga sih nyet mau nulis sepanjang apa. Blog lo sendiri ini. Haha.

Oke bye!


PS.  
Judul di atas buat temen lo, Kar? Nope! Gue bingung aja mau ngasi judul apa tapi yang jelas bukan buat temen gue. Dan apakah itu buat gue sendiri? Terserah orang nilainya gimana aja sih. Sabodo amat lah ya. No matter what you say. #akurapopo #akuraurus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar