Rabu, 09 Juli 2014

Cinta.

baca: cinta dengan titik


Sekitar pertengahan 2013, gue tau dari twitter bahwasanya Bernard Batubara menerbitkan novel baru. Well, kecepatan menulisnya memang perlu diapresiasi sih karena setauku gue belum lama dia menerbitkan kumcer Milana. Dan dari twitter itu pula gue tahu bahwasanya novel baru itu tentang orang ketiga. Iya, pihak yang tidak begitu gue suka dan hal itu juga yang membuat gue mengurungkan niat untuk membeli novel tersebut. Mungkin lebih tepatnya menghindari hati dari emosi. Haha.

Kemarin, tanpa gue duga adek gue kasi birthday gift berupa novel tersebut. Dan disaat adek gue kasi itu gue cuma ketawa dan ngomong, "Dek, ngapain sih beli ini. Ini novel tentang perselingkuhan tahu". Adek gue tau itu adalah salah satu hal yang gue benci. Adek gue nyengir dan bilang, "Mana aku tahu. Kan di cover belakang cuma ada blurbnya, nggak ada sinopsisnya".

Well. gue mulai buka itu novel. Baca kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf, lembar demi lembar, bab demi bab, hingga akhirnya dalam waktu dua hari novel itu habis ku lahap. Selesai baca yang ada cuma perasaan ya gitu deh.


Senyum-senyum sendiri karena pada akhirnya gue benci (atau mungkin tidak suka) dengan Nessa. Mungkin bukan sesosok Nessa. Lebih tepatnya gue sebel sama yang namanya pihak ketiga. Mencari kebahagiaan bukan berarti mengambil kebahagiaan orang lain kan? Apa itu benar-benar arti sesungguhnya dari bahagia walaupun ada pihak yang terluka?

Oke, gue pernah berpendapat bahwa pihak ketiga nggak selalu salah dengan beberapa alasan tertentu. Tapi, semisal kamu dalam posisi jatuh cinta pada seseorang yang sudah ada pemiliknya, kamu masih bisa membuat keputusan untuk terus lanjut atau berhenti kan? Dan kalau kamu lanjut sudah tahu resikonya kan? Akan ada pihak yang terluka.

Mungkin akan ada beberapa orang yang berkata, "Kamu nggak pernah ada di posisi aku. Jadi kamu nggak akan bisa ngerti". Dan gue hanya bisa senyum dan ngejawab, "Lo tahu apa sih? Gue pernah". Iya. Gue pernah salah. Gue pernah nyakitin hati perempuan lain. Gue pernah mengacaukan sebuah hubungan. Gue pernah sayang dengan seseorang yang suah memiliki pasangan. Waktu itu usia gue 12 tahun, kelas 2 SMP. Gue terima kalau lo anggap itu cinta monyet nggak penting tapi disaat itu, gue udah menyadari kalau gue salah dan gue minta maaf dengan perempuan pemilik laki-laki yang gue sayangi. Bahkan gue mengusahakan gimanapun caranya biar mereka nggak putus tapi ternyata mereka tetap berpisah. Dan saat mereka putus apakah gue seneng? Sama sekali tidak. Pada akhirnya apakah gue dan laki-laki itu bersatu? Tidak. Dia menyadari bahwasanya seandainya dia jadian sama gue, akan ada banyak orang yang benci sama gue dan dia nggak ingin itu terjadi. Dan gue menyadari, seandainya gue jadian sama dia, gue bakal nyakitin hati perempuan itu dua kali. Dan semenjak saat itu gue punya prinsip, nggak akan deket-deket sama cowok yang udah punya pacar. Atau mungkin lebih tepatnya, mencegah gimana caranya biar nggak jatuh cinta sama pacar orang.

Masih inget cerita tentang temen gue yang jadi pihak ketiga? Mereka sekarang berpisah. Sesuatu yang dimulai dengan nggak baik, akhirnya juga nggak baik sih. Itu yang gue tahu. Bukannya gue suka temen gue putus, tapi gue harap suatu hari nanti dia dapat memulai hubungan dengan lelaki single -- bukan lelaki yang sudah punya pacar. Gue juga pernah kok punya temen yang jatuh cinta sama pacar orang. Tapi dia akhirnya memilih untuk mundur teratur hingga akhirnya kini dia mendapat seseorang yang mungkin lebih baik. Jadi, jangan tanya kenapa gue nggak suka sama Mulan Jameela ataupun Mayangsari.

Orang ketiga. Perselingkuhan. Entahlah. Gue benci kedua hal itu. Mungkin, karena gue tahu rasanya ditinggalkan untuk orang lain. Mungkin.


PS.
Salah satu puisi di novel Cinta. yang gue suka

Di permukaan mataku kau menuliskan luka, lalu memaksa bibirku yang sedang kau lumat dengan ucapan perpisahan membacanya kata demi kata. Kita begitu fasih menghancurkan pilihan dan tak pernah tahu bagaimana cara mengembalikan.

Sementara air mata sibuk mencari jalan pulang, takdir melingkar tenang di jarimu serupa kegagalan yang memaksa untuk diingat. Aku tak mampu menulis di tanganmu sebab sebuah genggam tak cukup menahan puluhan rencana kepergian. Kita begitu hafal cara saling menemukan tapi tak pernah paham bagaimana cara bertahan.

Di dadamu ada tulisan yang tak pernah selesai. Tentang rindu yang lumpuh di tengah jalan dan cinta yang mekar di tempat lain. Jauh dari yang tak akan kembali. Jauh dari yang tak pernah terjadi.

- Endru Garnusa Rivai



Tidak ada komentar:

Posting Komentar