Rabu, 02 April 2014

Tentang Hidup



Satu sifat dasar manusia diantaranya adalah resistan terhadap perubahan.
Kata-kata yang dulu begitu klise, memang kadang baru akan terasa maknanya ketika masanya bertatap muka. Seberapa pun pandainya seseorang menyesuaikan diri, berada di dunia yang samasekali baru sedikit banyak akan memunculkan keenggannan yang nggak perlu. Mungkin juga ini menjawab, kenapa banyak orang betah menunda kelulusan sebagai mahasiswa, atau kenapa banyak "bayi" yang enggan beranjak dari kampung halaman.

Ah, hidup.


Tulisan ini setengah curhat. Seriusan.
Ceritanya tentang penempatan. Momok yang dialami oleh hampir setiap orang pada masanya.
Sebagai pribadi tanpa pengalaman dan daya tawar (bahkan yang berpengalaman pun beberapa juga relate), diombang-ambingkan oleh sistem berbentuk badan organisasi mau tidak mau jadi pilihan jua. Seperti semacam ospek kesekian kalinya bagi mereka, karena harus mengikuti apa perintah bos besar, tanpa tapi. Karena itu, sebenarnya buat saya yang bikin iri itu bukan mereka yang digaji dobel digit di perusahaan oil & gas, melainkan mereka yang bisa ngomong "Saya mau resign, pengen jadi pengusaha". Apa artinya sih dobel digit kalo nggak bisa jadi bos buat diri sendiri?

Kembali ke penempatan.

Jadi saya banyak nemu kasus dimana penempatan ketika di cross dengan tipikal Gen Y, hasilnya seperti menghadapi jurang antara hidup dan mati. Parno banget, sampai menimbulkan korban. Beberapa bahkan rela ngisep keringat orang tuanya lagi buat bayar penalty fee ke bos besar. Buat saya yang model gini udah gagal duluan buat sekedar memenuhi kompetensi dasarnya sebagai manusia, yaitu bertanggung jawab.

Manusia terlahir dengan adaptability yang luar biasa. Masih teringat, ketika beberapa bulan yang lalu saya ditempatkan di kota yang samasekali baru. Untungnya ni kota nggak sebegitu pelosoknya. Masih di Jawa. Tapi tetap saja, baru. Masih teringat betul bagaimana saya nggrundel. Gimana nggak nggrundel, mau main boardgame nggak bisa, teman nggak ada, keluarga jauh, kantong tipis, jomblo pula. Komplit.

Ternyata berjalan sekian bulan, not bad juga. Udah tau beli gorengan yang enak dimana, ngeprint papercraft dimana. Dan saat mulai kerasan, tiba waktunya dipindah lagi. Nggrundel lagi. Jumpalitan lagi. Padahal udah tau beberapa bulan ke depan bakal jadi bahan guyonan lagi. Tapi.... tetap saja.

Saat-saat seperti ini, kata-kata bijak yang di share di social media bisa menjelma menjadi seindah petikan prosa dan lantunan puisi. Makannya, jangan pelit share petuah dan nasihat yang bagus, it might change someone's day. Jangan takut dibilang sok, karena sesungguhnya kalaupun ada 1000 orang bilang kamu cakep pun, nggak akan merubah mukamu yang pas-pasan itu. Kebetulan, hari ini inget beberapa petuah yang nyetel dengan kegalauan penempatan. Yah, siapa tahu bisa sedikit membantu...

1. Growth and comfort did not coexist. Ni kata-kata favorit banget, asalnya dari Bos IBM, Ginni Rommety. Everytime you experiencing a rough day, remember that the rougher your day, the more you grow. Challenge aja. Paksain aja. Kita akan lebih sering level up bukan karena semua berjalan sesuai rencana, tapi karena kita bisa melewati kondisi yang nggak sesuai rencana. Iya-in aja. Belakangnya? gimana entar.

2. Nggak ada yang kebetulan. Another favourite quote from my guru. Kalo kamu percaya Dia maha segalanya, harusnya kamu nggak perlu khawatir. Dia kasih kamu keadaan dengan alasan. Takut nggak bisa adaptasi? Bukankah Dia yang paling tahu tentang batas kekuatanmu? Takut banyak masalah? Tau nggak kenapa Dia dijuluki Maha Memelihara? Mungkin butuh lima tahun, bahkan lebih, untuk tahu kenapa kamu dikasih kaya gini sekarang. Sampai lima tahun itu datang, jalanin aja.

3. Look back to your start. Ni kata-kata saya sendiri sih. Jangan keburu di close, baca aja bentar. Kadang yang jadi obat efektif buat saya sih ya ini. Liat lagi, kamu mulai semua proses ini karena apa? Banggain orangtuamu kah? Pengen jadi expert kah? Pengen bangun masa depan impianmu kah?? Kadang di tengah jalan, kita lupa semua itu, membiarkan ego yang jadi pilot. Balikin lagi niatmu, niatkan kerelaanmu diatur-atur orang buat tujuan muliamu. Niatkan ibadah. Niatkan sedekah.

Pada titik akhir, sempatkan waktu untuk diri sendiri. Meditasi lumayan berguna lho. Tapi harusnya kalo shalat dan sembahyang kamu khusyu, ga perlu itu meditasi-meditasi. Jangan lupa sungkem mamah papah. Jangan pacar mulu disungkemin. Toh saat pikiran kita cerah, kita pasti tahu, bahwa sejatinya kegalauan semacam ini cuma kegamangan di level hati, bukan fisik. Kamu sebenarnya kuat, tapi memilih untuk menjadi lemah. Takut dengan resiko, padahal kamu tahu, orang yang nggak mulai main nggak akan pernah tahu rasanya jadi pemenang.


Source: Vicky Zulfikar Belladino's Note

PS.
This posts made ​​me learn about a lot of things.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar