Minggu, 09 Maret 2014

Surat yang Tak Pernah Sampai





Pernah baca Filosofi Kopi-nya Dee? Pasti tau kan di dalam buku itu terdapat chapter yang berjudul 'Surat yang Tak Pernah Sampai'. Ketika membaca chapter tersebut, saya teringat pada seseorang yang sedang dekat dengan saya pada saat saya membeli buku tersebut. Seseorang yang saat ini telah lama menghilang, dan pergi dari hidup saya, dan seseorang itu adalah seseorang yang berhasil membuat saya sakit berbulan-bulan. Baiklah, mari kita lupakan seseorang itu karena yang akan saya tuliskan bukan tentangnya. Tetapi tentang orang lain, yang saya pernah menulis surat untuknya, tetapi saya sadar betul, surat itu tidak akan pernah sampai kepadanya.

Well. Aku mengenalnya beberapa tahun lalu. Mungkin, dia pernah menjadi seseorang yang kabarnya selalu ku tunggu. Tidak, itu bukan berarti aku mencintainya, aku sadar benar itu bukan cinta. Mungkin aku hanya sekedar suka, atau bahkan mungkin aku hanya sekedar merasa nyaman dan merasa senang setiap kali dia mau mendengar ceritaku atau mungkin aku yang ketawa ketiwi sendiri mendengar cerita-ceritanya. Entahlah, dia datang begitu saja sebagai sosok yang telah lama tidak aku temukan. Sosok yang nyaman diajak berbicara dan bercerita apa saja.

Hingga pada akhirnya,
aku menyadari, ada yang berbeda. Entahlah, aku tidak tau itu apa. Tapi aku tahu dan yakin benar, itu bukan cinta. Dan itulah yang menjadi awal, yang membuatku sadar, bahwa hubunganku dengannya tak akan berlangsung lama. Tidak akan menjadi hubungan persahabatan bertahun-tahun lamanya. Karena bila diteruskan, yang ada malah hubungan aneh yang entah apa namanya.

Aku tak tahu sejak kapan, berbagi cerita dengannya tak lagi sebebas dulu, tak lagi semenyenangkan dulu. Entah sudah berapa kali kami, atau mungkin aku, memulai pembicaraan yang kuharap akan menyenangkan tapi pada akhirnya, yang ada hanyalah perdebatan. Mendebatkan sesuatu yang entah apa aku juga tak tahu. Yang kutahu hanyalah, semua hal sudah berbeda entah sejak kapan itu.

November 2011. Surat pertama yang ku tulis untuknya. Surat yang kusadari bahwa itu tidak akan pernah sampai. Tapi aku tahu, isi surat itu adalah hal-hal yang ingin ku sampaikan padanya, hal-hal yang benar-benar dari dalam hati. Dan saat surat itu akan ku kirimkan, muncullah keraguan, atau mungkin ketidakberanian? Surat itu ku tulis, saat aku masih merasa nyaman berbicara dengannya. Masih mempunyai harapan bahwa kami akan bersahabat bertahun-tahun lamanya.

November 2012. Surat kedua yang kutulis untuknya. Surat yang lagi-lagi ku sadari bahwa itu tak akan sampai. Tapi sungguh, surat kedua itu juga berisi apa yang benar-benar dihatiku, apa yang benar-benar ingin aku sampaikan. Surat yang ku tulis beberapa lama setelah aku menyadari ada keanehan yang terjadi, ada yang berubah.

Tidak. Aku tidak sengaja menulis surat untuknya tiap bulan November, hanya saja mungkin kebetulan kedua surat itu kutulis pada bulan yang sama pada tahun yang berurutan. Kedua surat yang tak pernah sampai.

Saat ini, aku sendiri tak tahu apakah kami masih bisa dianggap teman? Atau mungkin sebenarnya hanya kenalan? Atau bahkan hanya tahu dan tidak mengenal? Entahlah. Aku sendiri tak mengerti. Mungkin aku telah membiarkannya pergi, karena mungkin aku telah lelah memperjuangkan sendiri hubungan yang aneh ini. Dalam satu hubungan, seharusnya ada dua pihak yang berjuang kan? Kalo salah satu sudah menyerah, buat apa? Dan mungkin, aku sadar diri, bahwa kehadiranku tak lagi diharapkan.

Pernah suatu hari, aku mengirimkan sebuah pesan untuknya, ada sesuatu hal yang ingin ku tanyakan padanya. Sesuatu hal yang bila tidak dalam keadaan terdesak, aku tak akan bertanya itu padanya. Saat itu aku dalam keadaan yang membutuhkan jawaban yang cepat, bukan lambat. Hingga pada akhirnya ada orang lain yang menolongku, jawaban darinya tak juga masuk ke handphoneku. Pesan darinya baru masuk ke handphoneku ke-esokan harinya. HAHA. Entahlah, aku tak habis pikir. Dia berkata dia sedang sibuk, sehingga tak punya waktu untuk melihat handphonenya. Iya, untuk pertama kalinya aku diperlakukan buruk oleh seseorang.

Selama ini, sesibuk apapun seseorang, mereka selalu ada waktu untuk membalas pesanku dan tidak membuatku menunggu lama. Bahkan walaupun isi pesan itu adalah, "maaf ya lama balesnya, kerjaan baru hectic banget, ngga papa kan ya?". Dan aku tahu benar, mereka itu adalah orang-orang super sibuk yang aku aja salut dalam keadaan sesibuk itu mereka membalas pesanku padahal aku uda bilang bales aja kalo mereka ada waktu. Bukan. Mereka tidak sedang mencari perhatian, mereka aku anggap teman. Tapi dia yang mungkin pekerjaannya nggak sesibuk mereka-mereka itu, tidak punya sedikitpun waktu untuk melihat handphonennya dan melihat pesanku tapi ajaibnya bisa update twitter. Ah. Betapa bodohnya aku yang bisa-bisanya diperlakukan buruk oleh seseorang.

Semenjak itulah, aku menyadari, aku tak diharapkan. I mean, if someone truly care about something, they'll make time, right? Dan semenjak itulah, pada akhirnya aku memutuskan untuk menyerah. Memutuskan berhenti berjuang. Memutuskan bahwa, yasudahlah. Menerima bahwa hubungan kami tak bisa 'baik-baik' lagi.

Hallo kamu yang aku tahu kamu sedang dalam keadaan yang baik-baik saja dan mungkin sedang bahagia-bahagianya atas pencapaianmu dan kuucapkan selamat atas tercapainya salah satu mimpimu. Aku pernah menulis dua buah surat untukmu. Surat yang benar-benar ku tulis dari dasar hati. Surat yang aku tahu, surat itu adalah surat yang tak akan pernah sampai kepadamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar